Sektor industri elektronik nasional mulai menaikkan harga jual produk televisi hingga pendingin ruangan (AC) menyusul pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang menyentuh level Rp 17.529 pada Rabu (13/5/2026). Dilansir dari Money, depresiasi mata uang ini berdampak signifikan karena ketergantungan manufaktur dalam negeri terhadap komponen impor masih sangat tinggi.
Data pasar spot menunjukkan rupiah telah melemah sekitar 5,1 persen sepanjang tahun ini atau terdepresiasi hingga 18,7 persen dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Kondisi ini secara otomatis meningkatkan struktur biaya produksi mengingat mayoritas transaksi pengadaan bahan baku dilakukan menggunakan mata uang dollar AS.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Komoditi Elektronik Indonesia (Apkonik), Deny Irawan menjelaskan bahwa tekanan kurs tersebut mulai mengubah perilaku pasar. Konsumen kini cenderung menunda transaksi pembelian di tengah ketidakpastian harga yang terus bergerak naik di berbagai sentra perdagangan.
“Sebagian besar komponen elektronik yang digunakan industri dalam negeri, seperti semikonduktor, IC, panel display, sensor, kapasitor, hingga beberapa bahan baku manufaktur masih bergantung pada impor,” ujar Deny Irawan, Ketua Umum Apkonik.
Deny memaparkan bahwa meskipun biaya produksi meningkat, penyesuaian harga di tingkat retail tidak selalu terjadi secara instan. Produsen masih mempertimbangkan ketersediaan stok lama serta strategi efisiensi agar tetap kompetitif di tengah persaingan pasar yang sangat ketat.
“Banyak pelaku industri masih memiliki stok impor dengan kurs lama, sehingga kenaikan harga biasanya tertahan sementara. Produsen juga berupaya melakukan efisiensi agar kenaikan biaya tidak seluruhnya dibebankan kepada konsumen,” ujar Deny Irawan, Ketua Umum Apkonik.
Penyesuaian harga dilaporkan telah terjadi sejak awal Mei 2026 di berbagai pusat distribusi dan ritel. Berdasarkan laporan lapangan, sejumlah produk elektronik di Jakarta telah mengalami kenaikan tipis sebagai respons atas pembengkakan biaya logistik dan komponen.
“Di sentra perdagangan elektronik Jakarta, harga produk seperti televisi dan AC dilaporkan sudah naik sekitar 2 persen sampai 5 persen. Kenaikan ini terutama dipicu oleh membengkaknya biaya impor komponen dan barang jadi yang masih menggunakan dolar AS,” ujar Deny Irawan, Ketua Umum Apkonik.
Situasi ini memicu penurunan volume penjualan di beberapa titik perdagangan karena daya beli masyarakat yang tertekan. Kecepatan perubahan harga yang terjadi dalam waktu singkat membuat banyak calon pembeli memilih untuk bersikap menunggu.
“Beberapa pedagang menyampaikan bahwa konsumen mulai menunda pembelian karena harga berubah cukup cepat dibanding bulan sebelumnya. Bahkan ada laporan penurunan penjualan ritel hingga sekitar 50 persen di beberapa titik perdagangan elektronik,” kata Deny Irawan, Ketua Umum Apkonik.
Untuk mengantisipasi kerentanan jangka panjang terhadap gejolak kurs global, pihak asosiasi menekankan pentingnya kemandirian industri dalam negeri. Penguatan struktur manufaktur lokal dipandang sebagai solusi utama untuk menjaga stabilitas harga produk elektronik di masa depan.
“Dari sisi asosiasi, kami mendorong penguatan industri komponen dalam negeri dan peningkatan TKDN agar industri elektronik Indonesia tidak terlalu rentan terhadap gejolak kurs global di masa mendatang,” tegas Deny Irawan, Ketua Umum Apkonik.
Pantauan di Pasar Glodok pada Kamis (14/5/2026) menunjukkan kenaikan harga nyata pada produk AC tipe 1 PK yang naik sekitar Rp 225.000 per unit. Kenaikan ini dikonfirmasi oleh para pedagang yang mulai menyesuaikan label harga mengikuti modal pengadaan yang baru.
“Harga AC, terutama tipe 1 PK, sudah naik sekitar Rp 225.000. Contohnya AC merek ’S’ Low Watt yang sebelumnya dijual sekitar Rp 2,9 juta, kini naik menjadi sekitar Rp 3,12 juta hingga Rp 3,2 juta,” kata Tio, Penjual.
Selain perangkat pendingin udara, harga televisi juga mengalami fluktuasi dengan rentang kenaikan yang beragam tergantung model dan teknologi yang digunakan. Beberapa produk kelas atas bahkan mencatat kenaikan harga hingga ratusan ribu rupiah dalam hitungan hari.
“Harga TV saat ini sudah naik sekitar 2 persen hingga 5 persen bulan Mei ini berkisar Rp 20.000 hingga Rp 50.000 untuk beberapa model, bahkan ada produk yang mengalami kenaikan signifikan hingga Rp 400.000 sampai Rp 450.000,” ujar Ryan, Penjual.
Secara makro, inflasi ini juga dipicu oleh lonjakan biaya energi dan gangguan rantai pasok global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Meskipun ada tekanan harga, ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026 tetap tumbuh 5,6 persen secara tahunan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·