Pelemahan Rupiah Tekan Sektor Farmasi dan Ritel di Pasar Saham

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat yang melemah diprediksi memberikan tekanan besar bagi sejumlah sektor di pasar saham Indonesia, terutama emiten dengan ketergantungan tinggi pada impor bahan baku dan utang valuta asing.

Dilansir dari Money, pergerakan kurs rupiah pada Kamis (7/5/2026) pagi sempat menguat 62 poin atau 0,36 persen ke level Rp 17.325 per dollar AS setelah sebelumnya sempat anjlok menyentuh posisi Rp 17.400 per dollar AS.

Kenaikan biaya produksi yang signifikan atau efek cost push inflation menjadi ancaman nyata bagi perusahaan dengan eksposur impor tinggi akibat penguatan mata uang Paman Sam tersebut.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa industri farmasi merupakan kelompok yang paling rentan karena sekitar 90 persen bahan baku obat masih didatangkan dari luar negeri.

"Ini kan bisa menciptakan cost push ya, kan cost push. Kalau sektor atau emiten yang paling beresiko farmasi pastinya. Karena exposure import-nya tinggi ya kan, sebagian besar bahan baku obat kan masih diimpor bisa 90 persen loh," ujar Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.

Nafan menambahkan bahwa situasi ini menciptakan dilema bagi perusahaan karena penguatan dollar AS dapat menggerus margin laba jika harga jual ke konsumen tidak dinaikkan.

"Jadi kenaikan dollar AS akan bisa menggerus margin laba, apalagi apabila emiten farmasi tidak menaikan harga jual ke konsumen seperti itulah di dilemanya," paparnya Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.

Selain farmasi, sektor ritel dan elektronik juga diprediksi menghadapi tantangan berat karena produk yang dipasarkan sangat sensitif terhadap harga global dan melemahnya daya beli masyarakat.

"Ada juga yang exposure import tinggi, ada juga sektor retail, sektor elektronik juga bisa ya kan karena mereka sangat sensitif karena produk mereka kan yang dijual berbasis harga global atau import seperti itu ya," tukas Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.

Meski demikian, kondisi ini justru menguntungkan sektor energi, material dasar, dan CPO karena pendapatan mereka menggunakan dollar AS sementara biaya operasional tetap dalam rupiah.

"Nah, yang diuntungkan tentu eksportir karena pendapatan mereka dalam bentuk dollar AS. Sementara biaya operasionalnya dalam rupiah," lanjut Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.

Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, menyoroti risiko arus keluar dana asing yang mengincar saham-saham perbankan besar akibat volatilitas nilai tukar.

"Risiko depresiasi rupiah menuju level Rp 17.500 tetap menjadi katalis utama outflow asing, sehingga emiten dengan komposisi kepemilikan asing yang besar, khususnya di sektor perbankan, menjadi kelompok yang paling rentan terhadap volatilitas pasar saat ini," kata Azharys Hardian, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia.