Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyatakan bahwa capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen bukan merupakan kinerja autopilot, melainkan hasil dorongan kebijakan fiskal pemerintah yang aktif di tengah ketidakpastian global pada Kamis (7/5/2026).
Dilansir dari Bloombergtechnoz, kestabilan kondisi ekonomi nasional tetap terjaga meski menghadapi tantangan konflik geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia. Pemerintah berupaya menjaga momentum ini melalui percepatan belanja negara sejak awal tahun guna memberikan dampak merata bagi masyarakat serta dunia usaha.
Pengendalian inflasi dan stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi juga diklaim menjadi faktor penting dalam mempertahankan daya beli serta konsumsi rumah tangga. Juda menyebut kepercayaan investor terhadap kondisi fiskal Indonesia saat ini masih berada pada posisi yang kuat.
"Tentu ini bukan autopilot. Karena kalau kita lihat sumber-sumber pertumbuhannya baik dari sisi demand maupun dari sisi supply, memang ada dorongan dari kebijakan-kebijakan pemerintah termasuk kebijakan fiskal," ucap Juda Agung, Wakil Menteri Keuangan.
Langkah strategis lainnya mencakup penyesuaian belanja negara untuk memastikan defisit fiskal tetap berada pada level aman. Upaya ini dilakukan sebagai pondasi bagi perencanaan pembangunan jangka menengah pada periode mendatang.
"Kita perlu melakukan refocusing (pengalihan fokus kembali) terhadap belanja-belanja yang lain dan itu sudah kita lakukan. Dengan upaya refocusing, upaya pengendalian belanja, upaya mendorong pendapatan, maka defisit fiskal kita bisa kita jaga di 2,9% tahun ini. Mudah-mudahan ini sebagai basis yang kuat bagi perencanaan kita di 2027 ke depan," ungkap Juda Agung, Wakil Menteri Keuangan.
Pemerintah telah menyiapkan strategi pembangunan 'pro-growth dan pro-welfare' untuk tahun 2027 melalui program prioritas seperti hilirisasi industri dan ketahanan energi. Fokus utama kebijakan ini adalah mempercepat kesejahteraan guna menghindari risiko perlambatan ekonomi jangka panjang.
"Saatnya kita untuk tumbuh lebih tinggi, sejahtera lebih cepat. Kalau kita tidak tumbuh tinggi di tahun-tahun ke depan ini, maka kita benar-benar akan masuk ke dalam jebakan pendapatan menengah atau middle income trap," ujar Juda Agung, Wakil Menteri Keuangan.
Pernyataan tersebut menekankan urgensi pertumbuhan ekonomi tinggi sebelum Indonesia menghadapi perubahan demografi penduduk pada dekade mendatang. Keberhasilan menjaga momentum saat ini dianggap krusial bagi masa depan ekonomi nasional.
"Beyond dari 2000, katakanlah 2035, kita mulai menua penduduknya. Jangan sampai kita terjebak pada middle income trap yang menyebabkan kita tua sebelum kaya," tutup Juda Agung, Wakil Menteri Keuangan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·