Pelemahan Rupiah Terhadap Dollar AS Ancam Kelangsungan Dunia Usaha

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Sektor dunia usaha mulai mengkhawatirkan tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) yang sempat menembus level Rp 17.500 pada Selasa (12/5/2026). Depresiasi mata uang ini diprediksi memicu kenaikan harga barang hingga risiko pemutusan hubungan kerja jika terus berlanjut dalam waktu lama.

Dilansir dari Money, nilai tukar rupiah di pasar spot sebenarnya ditutup menguat 53 poin atau 0,30 persen ke level Rp 17.475 per dollar AS pada Rabu (13/5/2026). Namun, gejolak eksternal seperti kenaikan yield US Treasury dan konflik geopolitik global masih membayangi stabilitas mata uang Garuda ke depan.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menyebutkan bahwa pencapaian level terendah baru rupiah menjadi alarm serius bagi para pelaku industri. Kondisi global saat ini memicu aliran modal keluar yang memberikan tekanan besar pada negara berkembang.

"Kondisi ini berdampak pada hampir seluruh negara berkembang, termasuk Indonesia, melalui tekanan nilai tukar dan meningkatnya capital outflow," ujarnya Shinta Widjaja Kamdani, Ketua Apindo.

Ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor mencapai 70 persen, di mana biaya komponen tersebut berkontribusi sekitar 55 persen dari total pengeluaran produksi. Shinta menilai pelemahan kurs secara otomatis akan mengerek biaya input perusahaan manufaktur.

"Bagi dunia usaha, situasi ini kami lihat sebagai external shock yang memperkuat tekanan pada struktur biaya dan arus kas perusahaan," ucap Shinta Widjaja Kamdani, Ketua Apindo.

Beberapa sektor yang paling terdampak meliputi industri petrokimia, plastik, makanan dan minuman, serta farmasi. Kenaikan harga bahan baku hulu seperti nafta telah memicu lonjakan harga resin yang kemudian merembet ke industri pengemasan di hilir.

"Ini menunjukkan adanya cost-push inflation pressure yang tidak hanya terbatas pada satu sektor, tetapi memiliki efek transmisi yang luas ke seluruh rantai pasok," jelas Shinta Widjaja Kamdani, Ketua Apindo.

Selain beban produksi, penguatan dollar AS memperberat kewajiban pembayaran utang valuta asing korporasi. Hal ini berdampak langsung pada ketersediaan dana operasional dan strategi pengembangan bisnis perusahaan.

"Dalam kondisi daya beli yang belum sepenuhnya pulih, ruang untuk melakukan penyesuaian harga juga terbatas, sehingga sebagian tekanan biaya harus diserap oleh pelaku usaha. Ini yang kemudian menekan margin dan memengaruhi keputusan ekspansi maupun penyerapan tenaga kerja," tutur Shinta Widjaja Kamdani, Ketua Apindo.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Sarman Simanjorang menyatakan fluktuasi nilai tukar saat ini sudah memengaruhi kondisi psikologis para pelaku usaha. Kenaikan biaya logistik dan bahan baku menjadi konsekuensi yang tidak terhindarkan.

"Pelemahan nilai rupiah ini akan memengaruhi cash flow dan biaya operasional maupun produksi karena kenaikan ini akan mengerek kenaikan bahan baku impor dan logistik," ujar Sarman Simanjorang, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia.

Sarman mengkhawatirkan daya tahan pengusaha yang terbatas akan memaksa terjadinya penyesuaian harga di level konsumen. Jika hal tersebut terjadi, maka angka inflasi nasional berisiko meningkat secara signifikan.

"Jika kenaikan harga produk ini mengalami penyesuaian tentu akan memengaruhi daya beli masyarakat dan inflasi," imbuh Sarman Simanjorang, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia.

Kelompok UMKM dinilai sebagai pihak yang paling rentan karena kesulitan menaikkan harga jual di tengah persaingan pasar. Saat ini, pelaku usaha mulai menempuh langkah efisiensi ekstrem, termasuk mencari alternatif bahan baku lokal dan mengurangi volume produk.

"Jika pelemahan nilai tukar ini berkepanjangan dikhawatirkan omzet pelaku usaha semakin tertekan dan akhirnya melakukan rasionalisasi pekerja, tentu ini sesuatu yang kita hindari," tutur Sarman Simanjorang, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia.