Pembukaan Selat Hormuz Turunkan Harga Minyak Dunia

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Iran kembali membuka jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz pada Sabtu (18/4/2026), sebuah langkah yang memicu penurunan harga minyak mentah dunia secara signifikan namun belum sepenuhnya memulihkan stabilitas rantai pasok industri petrokimia global.

Harga minyak Brent dilaporkan anjlok sebesar 9,01 dollar AS menjadi 90,38 dollar AS per barrel, sementara West Texas Intermediate (WTI) merosot ke level 83,85 dollar AS per barrel sebagaimana dilansir dari Money. Penurunan ini menjadi yang terdalam sejak awal April 2026 seiring meredanya kekhawatiran pasar.

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menjelaskan bahwa normalisasi jalur pelayaran ini merupakan bentuk peredaan risiko jangka pendek dan bukan tanda pemulihan ekonomi secara menyeluruh. Tekanan pada pasar energi memang melunak, namun pondasi perdagangan belum kembali ke keadaan aman.

"Efek pertamanya memang positif, tekanan pada pasar energi mereda, harga minyak turun dari sekitar 95 dollar AS per barrel ke bawah 89 dollar AS per barrel, dan sentimen pasar global membaik," kata Syafruddin Karimi, Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Andalas.

Penurunan harga energi ini diharapkan mampu mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve karena berkurangnya tekanan inflasi global. Syafruddin menambahkan bahwa bagi Indonesia, kondisi ini krusial untuk menekan biaya impor energi dan biaya transportasi jika tren penurunan bertahan.

"Bagi Indonesia, perkembangan ini penting karena biaya impor energi, biaya transportasi, dan tekanan inflasi impor bisa sedikit melunak bila penurunan harga itu bertahan," imbuh Syafruddin Karimi.

Meskipun jalur telah dibuka, fakta menunjukkan bahwa konflik sebelumnya telah memangkas lalu lintas kapal secara drastis. Ratusan kapal dan ribuan pelaut sempat terjebak, yang menyisakan beban biaya logistik dan premi keamanan bagi para pelaku usaha.

"Jadi, cara paling tepat memahami efek pembukaan Hormuz adalah ini, ia menurunkan suhu krisis, tetapi belum memulihkan fondasi pasokan dan perdagangan ke keadaan aman," terang Syafruddin Karimi.

Sektor industri makanan, farmasi, hingga otomotif diperkirakan merasakan dampak tercepat karena ketergantungan pada komponen berbasis resin. Namun, Syafruddin memperingatkan bahwa kenaikan biaya bahan baku pada akhirnya tetap akan dibebankan kepada konsumen akhir, termasuk rumah tangga.

"Sektor terdampak tidak langsung mencakup UMKM, perdagangan ritel, jasa distribusi, dan rumah tangga, karena kenaikan harga kemasan dan barang turunan pada akhirnya akan diteruskan ke harga jual," ucap Syafruddin Karimi.

Rumah tangga dengan pendapatan rendah diprediksi menjadi kelompok paling rentan terhadap kenaikan harga kebutuhan harian. Hal ini terjadi karena struktur biaya industri tidak hanya ditentukan oleh harga minyak mentah, tetapi juga ketersediaan bahan baku plastik.

"Jadi, pembukaan Hormuz tidak hanya menyentuh sektor energi. Dampaknya menjalar ke struktur biaya industri dan biaya hidup masyarakat," ucap Syafruddin Karimi.

Harga plastik dibentuk oleh rantai pasok yang rumit, termasuk ketersediaan nafta dan olefin. Syafruddin menekankan bahwa gangguan pada kompleks petrokimia di wilayah konflik masih menjadi ancaman bagi stabilitas harga bahan baku kemasan tersebut.

"Masalahnya, dua risiko terakhir belum sepenuhnya pulih," ungkap Syafruddin Karimi.

Kondisi pusat produksi petrokimia yang masih berisiko membuat pelaku pasar cenderung menahan stok dan tetap menetapkan premi risiko yang tinggi. Pembukaan jalur laut ini dianggap belum menjadi sinyal otomatis bagi penurunan harga produk hilir petrokimia.

"Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar tetap akan membeli kepastian dengan harga tinggi, menahan stok, dan memasukkan premi risiko ke harga resin. Karena itu, pembukaan Hormuz lebih tepat dibaca sebagai sinyal meredanya tekanan, bukan sinyal otomatis turunnya harga plastik," tutup Syafruddin Karimi.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal berpendapat bahwa pemulihan pasokan petrokimia memerlukan waktu dan tidak bisa terjadi secara instan setelah jalur dibuka. Menurutnya, terdapat jeda waktu sebelum kelancaran lalu lintas berdampak pada ketersediaan barang di pasar.

"Walaupun kelancarannya tidak langsung ya serta merta, mungkin ada leg waktu, jadi tidak bisa terlalu cepat pulih," ungkap Mohammad Faisal, Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia.

Faisal meyakini pembukaan akses ini secara bertahap akan memberikan efek positif terhadap penurunan harga komoditas penting lainnya. Lancarnya arus distribusi minyak dan gas akan memengaruhi berbagai sektor, termasuk industri penerbangan yang sebelumnya tertekan harga avtur.

"Yang jelas dengan pembukaan Selat Hormuz mestinya memberikan efek positif pada penurunan harga," terang Mohammad Faisal.

Sektor utama yang mendapatkan dampak langsung adalah minyak, gas, dan produk petrokimia. Kelancaran distribusi ketiga komoditas tersebut menjadi kunci perbaikan rantai pasok global di masa mendatang.

"Yang akan kembali lebih lancar dengan pembukaan Selat Hormuz adalah lalu lintas minyak, gas, dan petrokimia," ungkap Mohammad Faisal.

Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) sebelumnya mencatat lonjakan harga bahan baku plastik hingga 80 persen akibat gangguan pasokan. Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiono menyatakan bahwa pasar telah memasuki fase penyesuaian harga baru.

"Harga bahan baku plastik yang sebelumnya sekitar 1.000 dollar AS per metrik ton, kini sudah naik hingga 1.800 dollar AS. Artinya kenaikannya hampir 80 persen," ujar Fajar Budiono, Sekretaris Jenderal Inaplas.

Kapal-kapal yang kini melintasi Selat Hormuz tetap diwajibkan melakukan koordinasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran sesuai protokol yang berlaku pasca-pembukaan jalur tersebut.