Pemerintah Seleksi Perusahaan Amerika Serikat untuk Impor Minyak

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sedang mengkaji sejumlah perusahaan asal Amerika Serikat untuk mengamankan kontrak pembelian komoditas migas setelah tim PT Pertamina (Persero) melakukan kunjungan kerja ke negara tersebut pada Senin (11/5/2026).

Sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz, upaya ini dilakukan untuk mencari sumber energi dengan harga paling kompetitif demi menjaga daya saing harga di pasar domestik. Pemerintah menekankan prinsip ekonomi dalam menentukan mitra pengadaan migas tersebut.

"Jadi laporannya sudah masuk, dan semuanya kita cari mana yang lebih efisien. Hukum permintaan dan penawaran. Ada produk, ada market. Saya harus mencari banyak produk, kan. Habis itu kita lihat mana harga yang paling efisien," kata Bahlil, Menteri ESDM.

Penetapan mitra impor ini akan sangat bergantung pada efisiensi biaya yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat. Bahlil menegaskan pentingnya efisiensi tersebut untuk stabilitas nasional.

"Harga yang efisien kita ambil. Supaya apa? Harga di dalam negeri kompetitif," tegas Bahlil, Menteri ESDM.

Sebelumnya, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri guna membahas rencana pemenuhan kebutuhan energi nasional dari berbagai sumber di Amerika Serikat.

"Tadi pagi saya juga rapat dengan Kemenlu dan juga dengan beberapa dubes itu juga kita atas komitmen itu tim dari Pertamina kan juga lagi ada di Amerika sekarang. Jadi perusahaan-perusahaan mana yang bisa menyuplai kita dalam waktu cepat dan juga bagaimana pengiriman yang kita harapkan itu berbagai sumber untuk kebutuhan crude kita dan juga untuk kebutuhan LPG dalam negeri itu bisa terpenuhi," kata Yuliot, Wakil Menteri ESDM.

Yuliot menambahkan bahwa saat ini ketergantungan Indonesia terhadap pasokan gas minyak cair atau LPG dari Amerika Serikat sudah cukup tinggi, yakni mencapai kisaran 60 hingga 70 persen dari total impor.

"Jadi ya kita berusaha untuk meningkatkan sebagai pemenuhan komitmen kita di ART, tetapi di dalamnya kan kalau kita menambah itu sumbernya dari mana lagi? Untuk crude itu juga sama. Itu yang lagi didetailkan oleh teman-teman Pertamina," ujar Yuliot, Wakil Menteri ESDM.

Berdasarkan dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART) dari Gedung Putih per 19 Februari 2026, Indonesia berkomitmen melakukan pembelian energi dari Amerika Serikat dengan total nilai yang signifikan.

Rincian kewajiban tersebut mencakup pembelian LPG senilai US$3,5 miliar atau sekitar Rp59,13 triliun, minyak mentah senilai US$4,5 miliar (Rp76,02 triliun), serta bensin olahan mencapai US$7 miliar (Rp118,26 triliun).

"Indonesia akan memfasilitasi, dengan memberikan semua persetujuan pemerintah, keputusan, dan izin yang diperlukan kepada entitas milik negara dan sektor swasta, peningkatan pembelian energi AS," tulis Gedung Putih.