Sejumlah pemimpin negara Eropa mulai mengubah haluan kebijakan diplomatik terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis, 7 Mei 2026, setelah upaya peredaman ketegangan selama setahun terakhir dinilai tidak efektif. Langkah ini muncul di tengah meningkatnya sikap permusuhan Washington terkait sengketa komputasi awan dan ketidakpastian komitmen pertahanan transatlantik.
Komentar Strategic Europe yang disunting Rym Momtaz menyoroti pergeseran besar dalam arsitektur keamanan Benua Biru yang selama tujuh dekade bergantung pada perlindungan Amerika Serikat. Para pemimpin kini mempertanyakan apakah biaya politik untuk menoleransi perilaku Trump masih sebanding dengan nilai strategis yang ditawarkan Washington.
Pergeseran ini didorong oleh persepsi bahwa kepemimpinan Amerika Serikat saat ini cenderung agresif dan tidak stabil, yang mulai mengikis posisi internal pemerintahan di Eropa. Ketegangan semakin meningkat seiring ambisi kedaulatan digital Eropa dalam mengendalikan infrastruktur strategis seperti kecerdasan buatan dan rantai pasok teknologi.
Di sisi lain, laporan Estrelladigital mencatat bahwa Eropa kini berada pada ambang sejarah untuk menempa otonomi strategis secara mandiri. Penurunan pengaruh Amerika Serikat di dalam NATO dipandang sebagai akhir dari era protektorat yang selama ini mendefinisikan stabilitas kawasan.
Prancis dan Jerman muncul sebagai motor penggerak utama dalam strategi baru ini guna mengisi kekosongan kepemimpinan. Langkah nyata yang diusulkan mencakup peningkatan anggaran pertahanan secara signifikan, koordinasi teknologi militer melalui Kerja Sama Terstruktur Permanen (PESCO), dan pembentukan doktrin keamanan siber yang seragam.
Kondisi ini diperumit oleh hubungan Trump dengan partai-partai sayap kanan di Eropa. Meski Trump memberikan dukungan eksplisit kepada tokoh-tokoh tertentu, kebijakan perdagangan dan klaim terhadap wilayah kedaulatan Eropa justru memicu ketidaknyamanan di kalangan internal pendukungnya sendiri.
Visi Desarrollista melaporkan bahwa dukungan Trump terhadap pemimpin ekstrem kanan seperti Viktor Orban dan Giorgia Meloni sering kali berbenturan dengan kepentingan nasional negara-negara tersebut. Salah satu contoh ketegangan adalah saat Trump menyatakan keinginan untuk menguasai Greenland, wilayah otonom Denmark.
"decadence" cetus pihak administrasi Donald Trump terkait kondisi Eropa saat ini sebagaimana dilansir dari Vision Desarrollista.
Istilah tersebut digunakan untuk mengkritik para pemimpin tradisional Eropa yang dianggap gagal dalam mengelola kebijakan migrasi dan kebebasan berekspresi. Kritikan pedas ini juga mencakup penilaian rendah terhadap peran tentara Eropa di medan konflik internasional seperti Afghanistan.
"American First" kata Donald Trump dalam doktrin politiknya yang kerap merugikan kepentingan ekonomi mitra transatlantiknya.
Kebijakan tersebut memicu resistensi dari kelompok kiri-tengah dan liberal di Eropa. Data terbaru menunjukkan tingkat kepercayaan publik di Prancis, Jerman, dan Inggris terhadap Amerika Serikat sebagai mitra andal menurun hingga ke angka 15 persen.
"pos-EEUU" sebut laporan Estrelladigital untuk menggambarkan era baru keamanan dan kepemimpinan mandiri di benua tersebut.
Konsolidasi otonomi strategis ini kini dipandang bukan sekadar masalah pertahanan militer, melainkan penegasan peran Uni Eropa sebagai aktor global yang matang. Keberanian diplomatik, seperti yang ditunjukkan Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen saat menolak klaim atas Greenland, menjadi katalisator bagi persatuan Eropa yang lebih kokoh.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·