Sejumlah pemimpin tinggi Iran secara serentak menolak pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai adanya perpecahan dalam sistem pemerintahan Teheran pada Kamis (23/4/2026). Para pejabat negara tersebut menegaskan bahwa kesatuan politik di Iran tetap kokoh dan tidak tergoyahkan oleh klaim pihak luar.
Klaim mengenai keretakan internal tersebut dibantah melalui serangkaian pernyataan resmi para pejabat tinggi, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Respons kolektif ini muncul setelah pihak Gedung Putih menyebut adanya perselisihan antara faksi garis keras dan moderat yang dianggap menghambat kesepakatan diplomatik.
Kepala otoritas kehakiman Iran, Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, memberikan kritik tajam melalui media sosial terhadap penggunaan istilah politik Barat yang diarahkan kepada negaranya. Penegasan ini disampaikan sebagai bentuk respons langsung atas narasi perpecahan tersebut.
"menyadari bahwa istilah 'garis keras' dan 'moderat' adalah label yang dibuat-buat tanpa dasar yang nyata, yang umum digunakan dalam wacana politik Barat" ujar Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, Kepala Otoritas Kehakiman Iran.
Mohseni-Ejei menyatakan bahwa seluruh elemen politik di Teheran masih berada dalam satu komando di bawah kepemimpinan tertinggi negara. Hal ini menunjukkan soliditas struktural dalam merespons tekanan internasional.
"Semua kelompok dan semua arus di Iran pada akhirnya mempertahankan kohesi, persatuan, dan komitmen mereka terhadap arahan Pemimpin Tertinggi yang terhormat." kata Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, Kepala Otoritas Kehakiman Iran.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, turut memberikan sanggahan senada melalui pernyataan tertulis. Ia menekankan bahwa identitas nasional sebagai warga Iran jauh melampaui sebutan kelompok yang dibuat oleh pihak asing.
"Di Iran, tidak ada garis keras atau moderat. Kita semua adalah warga Iran" tegas Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran.
Ghalibaf memperingatkan bahwa persatuan antara rakyat dan pemerintah di bawah arahan Pemimpin Tertinggi akan menjadi kekuatan untuk melawan setiap bentuk agresi. Komitmen ini menurutnya bersifat mutlak bagi seluruh rakyat Iran.
"Dengan persatuan yang tak tergoyahkan antara rakyat dan negara, dan ketaatan penuh kepada Pemimpin Tertinggi, kita akan membuat agresor menyesali tindakan mereka" sebut Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga mengunggah pesan serupa dengan pilihan kata yang sama di akun media sosial resminya. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menekankan koordinasi antara kekuatan militer dan upaya diplomatik.
"medan perang dan diplomasi adalah dua front yang terkoordinasi penuh dalam perang yang sama" kata Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.
Araghchi menilai bahwa situasi saat ini justru membuat solidaritas masyarakat Iran menjadi lebih kuat dibandingkan periode sebelumnya. Hal ini berlawanan dengan penilaian yang diberikan oleh pihak Washington.
"Rakyat Iran lebih bersatu dari sebelumnya" tegas Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersikeras bahwa Iran sedang mengalami krisis kepemimpinan yang serius akibat konflik internal. Menurut Trump, perdebatan antara dua faksi besar di Iran menyebabkan kekacauan dalam pengambilan keputusan negara.
"Iran sedang dalam kesulitan besar dalam menentukan siapa pemimpin mereka! Mereka benar-benar tidak tahu!" cetus Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Trump menambahkan bahwa pertentangan antara kelompok yang disebutnya sebagai garis keras dan moderat telah mencapai tingkat yang sangat tinggi. Ia mengklaim fenomena ini sangat memengaruhi stabilitas internal negara tersebut.
"Pertikaian internal antara kelompok 'Garis Keras', yang telah mengalami kekalahan telak di medan perang, dan kelompok 'Moderat', yang sebenarnya tidak terlalu moderat (tetapi semakin dihormati!), sungguh gila!" klaim Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·