Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan melakukan modifikasi cuaca apabila terjadi musim kemarau berkepanjangan akibat fenomena El Nino yang berpotensi memicu krisis air di ibu kota.
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Pembangunan dan Tata Ruang, Nirwono Joga mengatakan langkah tersebut menjadi salah satu upaya menjaga ketersediaan air saat musim kemarau.
“Kalau saat musim hujan kemarin modifikasi cuaca dilakukan untuk mengurangi curah hujan, maka pada musim kemarau bisa dilakukan untuk mendatangkan hujan,” kata Nirwono usai Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Air Tanah di Tengah Ancaman El Nino: Krisis yang Tidak Terlihat” di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, penanganan persoalan air tanah dan ancaman kekeringan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, PAM Jaya, DPRD, dan masyarakat.
Ia mengatakan pemerintah memiliki peran dalam regulasi, PAM Jaya sebagai penyedia layanan air perpipaan, sedangkan masyarakat dan komunitas dapat mengawal implementasi di lapangan.
Selain modifikasi cuaca, Pemprov DKI juga mendorong optimalisasi badan air seperti sungai dan waduk untuk menjaga ketersediaan air selama musim kemarau.
Nirwono menilai pengawasan penggunaan air tanah perlu diperkuat, terutama di kawasan industri dan permukiman, melalui inspeksi maupun audit berkala.
Namun, ia mengakui penerapan pembatasan penggunaan air tanah belum dapat dilakukan sepenuhnya di wilayah yang belum terjangkau layanan perpipaan.
“Kalau belum ada jaringan perpipaan lalu diminta memakai air PAM tentu tidak mudah,” ujarnya.
Sementara itu, Senior Manager Corporate & Customer Communication PAM Jaya, Gatra Vaganza mengatakan penggunaan air tanah tidak sepenuhnya aman, meski terlihat jernih secara kasat mata.
Menurut dia, PAM Jaya terus mendorong masyarakat beralih ke layanan air perpipaan sekaligus meningkatkan kapasitas distribusi air.
Hingga kini, kata Gatra, PAM Jaya telah menambah 1.183.669 sambungan pelanggan atau mencapai 81,11 persen dari target total 2.010.888 sambungan.
"Sejauh ini kami belum melihat adanya potensi kekurangan suplai air perpipaan. Namun, kekeringan kemungkinan berdampak pada warga yang masih menggunakan air tanah," katanya.
Di sisi lain, Koordinator Presidium Koalisi Air Tanah Jakarta (JATA), Laode Kamaludin menyebut sekitar 40 persen warga Jakarta masih memanfaatkan air tanah untuk kebutuhan sehari-hari.
Menurut dia, eksploitasi air tanah menjadi salah satu penyebab penurunan muka tanah di Jakarta, terutama di wilayah Jakarta Utara.
Sebagai upaya edukasi masyarakat, kata Laode, JATA berencana membuka posko di setiap kecamatan guna mendorong percepatan penggunaan air perpipaan dan mengurangi eksploitasi air tanah.
Baca juga: Cegah karhutla, OMC dilaksanakan selama 10 hari di Sumatera Selatan
Baca juga: BMKG gandeng swasta untuk OMC cegah karhutla di Jambi dan Sumsel
Baca juga: Pemasangan alat sensor dibahas Kemenhut-BMKG untuk tekan karhutla
Pewarta: Syaiful Hakim
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
56 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·