Pemprov Kalteng Bersama PMII Dorong Solusi Konflik Agraria di Kalteng

Sedang Trending 1 jam yang lalu

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Isu keadilan agraria dan kedaulatan ruang hidup masyarakat menjadi sorotan dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-66 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kalimantan Tengah (Kalteng), yang digelar di Aquarius Boutique Hotel, Minggu (26/4).

Momentum ini menjadi ruang dialog antara mahasiswa, pemerintah daerah, aparat keamanan, dan tokoh masyarakat untuk membahas isu strategis di Bumi Tambun Bungai.

Kegiatan tersebut dihadiri Gubernur Kalteng H. Agustiar Sabran, Kapolda Kalteng Irjen Pol. Iwan Kurniawan, Ketua PWNU Kalteng Dr. H. Wahyudie F. Dirun, serta pengurus dan kader PMII se-Kalteng.

Gubernur mengucapkan selamat atas Harlah ke-66 PMII. Ia menilai usia tersebut mencerminkan kematangan organisasi dalam mengawal nilai keislaman dan kebangsaan.

“PMII harus semakin matang sebagai agen perubahan dan penjaga moral bangsa, sekaligus kawah candradimuka bagi calon pemimpin masa depan,” ujarnya.

Ia menegaskan, PMII harus tetap berada di garda terdepan dalam menjaga moderasi beragama dan keutuhan NKRI dalam bingkai falsafah Huma Betang. Kader PMII juga diminta memperkuat literasi, berbasis data, serta mampu menghadirkan solusi kebijakan.

Gubernur mengapresiasi dialog publik yang mengangkat tema “Gerakan Agraria Menuju Keadilan Sosial dan Kedaulatan Ruang Hidup Masyarakat Kalimantan Tengah.”

Electronic money exchangers listing

Menurutnya, persoalan agraria tidak hanya soal tanah, tetapi juga menyangkut keadilan, kesejahteraan, dan keberlanjutan hidup masyarakat, khususnya masyarakat adat dan lokal.

“Kalteng kaya sumber daya alam, tetapi juga menghadapi konflik lahan, ketimpangan penguasaan tanah, serta ancaman terhadap ruang hidup masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan, pemerintah terus mendorong reforma agraria, perlindungan masyarakat adat, dan penataan ruang berkeadilan. Namun, upaya tersebut memerlukan sinergi berbagai pihak.

Gubernur juga menegaskan keterbukaan terhadap kritik mahasiswa selama disampaikan secara santun, berbasis data, dan solutif.

Sementara itu, Kapolda Kalteng Irjen Pol. Iwan Kurniawan menyoroti konflik agraria dari sisi keamanan. Ia menyebut konflik agraria berpotensi memicu tindak kriminalitas hingga korban jiwa jika tidak ditangani dengan baik.

“Kalau tidak dikelola dengan baik, konflik ini bisa meluas dan menimbulkan kerugian materiil maupun korban jiwa,” tegasnya.

Ia mencontohkan konflik di Kabupaten Kapuas serta berbagai sengketa antara perusahaan dan masyarakat maupun antar kelompok masyarakat.

Kapolda berharap kegiatan ini melahirkan rekomendasi strategis dan solusi konkret.

“Mahasiswa tidak cukup kuat di teori, tetapi harus mampu mengimplementasikan gagasan menjadi aksi nyata,” ujarnya.

Ketua PKC PMII Kalteng, Fikri Haikal, menegaskan bahwa usia 66 tahun menjadi momentum menghadirkan aksi nyata.

“Indonesia tidak hanya butuh narasi, tetapi solusi. Rakyat tidak butuh janji, tetapi bukti,” katanya.

Ia menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam melawan hoaks, menjaga ruang publik, serta hadir di tengah masyarakat sebagai penyambung aspirasi rakyat.

Di sisi lain, Ketua PWNU Kalteng, Dr. H. Wahyudie F. Dirun, menyebut Harlah sebagai momentum introspeksi dan muhasabah.

Ia menegaskan PMII merupakan bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama bersama badan otonom lainnya.

“Hari lahir ini menjadi momentum evaluasi perjuangan dan program kemaslahatan yang telah dilakukan,” ujarnya.

Ia mengibaratkan NU seperti Rumah Betang dalam filosofi Dayak, yang mempersatukan berbagai latar belakang dalam semangat kebersamaan.

Wahyudie juga berpesan agar kader PMII menjaga kaderisasi sebagai mesin perjuangan serta meluruskan niat dalam berorganisasi sebagai bentuk pengabdian. (ovi/ala/kpg)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Isu keadilan agraria dan kedaulatan ruang hidup masyarakat menjadi sorotan dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-66 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kalimantan Tengah (Kalteng), yang digelar di Aquarius Boutique Hotel, Minggu (26/4).

Momentum ini menjadi ruang dialog antara mahasiswa, pemerintah daerah, aparat keamanan, dan tokoh masyarakat untuk membahas isu strategis di Bumi Tambun Bungai.

Kegiatan tersebut dihadiri Gubernur Kalteng H. Agustiar Sabran, Kapolda Kalteng Irjen Pol. Iwan Kurniawan, Ketua PWNU Kalteng Dr. H. Wahyudie F. Dirun, serta pengurus dan kader PMII se-Kalteng.

Electronic money exchangers listing

Gubernur mengucapkan selamat atas Harlah ke-66 PMII. Ia menilai usia tersebut mencerminkan kematangan organisasi dalam mengawal nilai keislaman dan kebangsaan.

“PMII harus semakin matang sebagai agen perubahan dan penjaga moral bangsa, sekaligus kawah candradimuka bagi calon pemimpin masa depan,” ujarnya.

Ia menegaskan, PMII harus tetap berada di garda terdepan dalam menjaga moderasi beragama dan keutuhan NKRI dalam bingkai falsafah Huma Betang. Kader PMII juga diminta memperkuat literasi, berbasis data, serta mampu menghadirkan solusi kebijakan.

Gubernur mengapresiasi dialog publik yang mengangkat tema “Gerakan Agraria Menuju Keadilan Sosial dan Kedaulatan Ruang Hidup Masyarakat Kalimantan Tengah.”

Menurutnya, persoalan agraria tidak hanya soal tanah, tetapi juga menyangkut keadilan, kesejahteraan, dan keberlanjutan hidup masyarakat, khususnya masyarakat adat dan lokal.

“Kalteng kaya sumber daya alam, tetapi juga menghadapi konflik lahan, ketimpangan penguasaan tanah, serta ancaman terhadap ruang hidup masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan, pemerintah terus mendorong reforma agraria, perlindungan masyarakat adat, dan penataan ruang berkeadilan. Namun, upaya tersebut memerlukan sinergi berbagai pihak.

Gubernur juga menegaskan keterbukaan terhadap kritik mahasiswa selama disampaikan secara santun, berbasis data, dan solutif.

Sementara itu, Kapolda Kalteng Irjen Pol. Iwan Kurniawan menyoroti konflik agraria dari sisi keamanan. Ia menyebut konflik agraria berpotensi memicu tindak kriminalitas hingga korban jiwa jika tidak ditangani dengan baik.

“Kalau tidak dikelola dengan baik, konflik ini bisa meluas dan menimbulkan kerugian materiil maupun korban jiwa,” tegasnya.

Ia mencontohkan konflik di Kabupaten Kapuas serta berbagai sengketa antara perusahaan dan masyarakat maupun antar kelompok masyarakat.

Kapolda berharap kegiatan ini melahirkan rekomendasi strategis dan solusi konkret.

“Mahasiswa tidak cukup kuat di teori, tetapi harus mampu mengimplementasikan gagasan menjadi aksi nyata,” ujarnya.

Ketua PKC PMII Kalteng, Fikri Haikal, menegaskan bahwa usia 66 tahun menjadi momentum menghadirkan aksi nyata.

“Indonesia tidak hanya butuh narasi, tetapi solusi. Rakyat tidak butuh janji, tetapi bukti,” katanya.

Ia menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam melawan hoaks, menjaga ruang publik, serta hadir di tengah masyarakat sebagai penyambung aspirasi rakyat.

Di sisi lain, Ketua PWNU Kalteng, Dr. H. Wahyudie F. Dirun, menyebut Harlah sebagai momentum introspeksi dan muhasabah.

Ia menegaskan PMII merupakan bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama bersama badan otonom lainnya.

“Hari lahir ini menjadi momentum evaluasi perjuangan dan program kemaslahatan yang telah dilakukan,” ujarnya.

Ia mengibaratkan NU seperti Rumah Betang dalam filosofi Dayak, yang mempersatukan berbagai latar belakang dalam semangat kebersamaan.

Wahyudie juga berpesan agar kader PMII menjaga kaderisasi sebagai mesin perjuangan serta meluruskan niat dalam berorganisasi sebagai bentuk pengabdian. (ovi/ala/kpg)