Pemprov NTT perkuat kolaborasi ekosistem kewirausahaan iklim

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Pemerintah daerah menilai transisi energi bersih harus bersifat inklusif, tidak hanya berfokus pada kota dan perusahaan besar, tetapi menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan tingkat pemerintahan,

Kupang, NTT (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pemprov NTT) memperkuat kolaborasi ekosistem kewirausahaan iklim guna mendorong ekonomi rendah karbon dan berkelanjutan melalui sinergi lintas sektor, termasuk pemerintah, pelaku usaha, dan mitra pembangunan.

“Kegiatan ini menjadi sumber informasi terkait berbagai kebijakan sekaligus bahan penyusunan kebijakan publik di bidang perubahan iklim dan kewirausahaan,” kata Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Pembangunan Jusuf Lery Rupidara di Kupang, Selasa.

Hal itu disampaikan dalam kegiatan Diseminasi Hasil Pemetaan Ekosistem Kewirausahaan Iklim di Indonesia Timur yang diselenggarakan New Energy Nexus Indonesia bersama Kemitraan Iklim dan Infrastruktur Australia-Indonesia (KINETIK).

Ia mengatakan, Pemprov NTT mengapresiasi kerja sama Indonesia dan Australia yang mendorong pertumbuhan ekonomi baru melalui penguatan ekosistem kewirausahaan.

Baca juga: Pemprov Bengkulu-Bappenas perkuat kolaborasi pembangunan rendah karbon

“Pemerintah daerah menilai transisi energi bersih harus bersifat inklusif, tidak hanya berfokus pada kota dan perusahaan besar, tetapi menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan tingkat pemerintahan,” katanya.

Ia juga mendorong agar inovator daerah, UMKM, dan pelaku usaha rintisan dapat berperan menjadi motor penggerak proyek berkelanjutan.

“Kami berharap rangkaian diseminasi pengembangan ekosistem kewirausahaan di Indonesia Timur ini berjalan lancar, memperkuat sinergi dan komunikasi antar pemangku kepentingan, serta memberi manfaat bagi pembangunan NTT,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Wesly Sinulingga dari Direktorat Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (DJSPSK) Kementerian Keuangan mengatakan, transisi menuju ekonomi rendah karbon dan berkelanjutan merupakan agenda transformasi ekonomi, bukan sekadar isu lingkungan.

Baca juga: IIF raih laba bersih Rp185,3 miliar pada 2025

Menurutnya, keberhasilan transisi ditopang ekosistem lokal yang mencakup pembiayaan serta konektivitas antara ide, kapasitas, teknologi, pasar, dan investasi.
Selain itu, kewirausahaan saat ini menjadi masa depan ekonomi, dengan banyak inovasi lahir dari daerah, generasi muda, dan perempuan.

“Daerah perlu dipandang sebagai pusat inovasi dan pertumbuhan baru, bukan hanya penerima kebijakan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa transisi ekonomi juga harus membuka peluang bagi masyarakat lokal, UMKM, perempuan, pemuda, dan kelompok rentan, sehingga kewirausahaan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga dampak sosial.

Ke depan, lanjut dia, Kementerian Keuangan akan mendukung melalui penguatan ekosistem keuangan berkelanjutan, kebijakan, instrumen pembiayaan, serta kerja sama kolaboratif.

“Kami berharap forum ini menghasilkan kolaborasi, proyek, dan investasi nyata di Provinsi NTT,” katanya.

Adapun dalam forum tersebut juga dilakukan sesi diskusi bersama dua startup lokal, yakni Kuan Timor Teknologi dan Sumba Solusi Alam, yang membahas profil solusi teknologi, tantangan kewirausahaan iklim, serta masukan untuk penguatan ekosistem.

Pewarta: Yoseph Boli Bataona
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.