Harga Emas Global 15 Mei 2026 Bertahan di Level US$4.610 per Ons

Sedang Trending 54 menit yang lalu

Harga emas global terpantau masih bertahan di posisi tinggi meski mengalami tekanan setelah mencetak rekor fantastis pada awal tahun ini. Berdasarkan data per Jumat, 15 Mei 2026, pukul 11.30 WIB, logam mulia ini diperdagangkan pada level US$4.610 per ons.

Dikutip dari Market, angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 6,59 persen secara year-to-date (YtD). Sebelumnya, emas sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di posisi US$5.418,54 per ons pada 28 Januari 2026.

Pergerakan harga emas di sisa tahun ini akan sangat dipengaruhi oleh sosok Kevin Warsh yang dijadwalkan memimpin Federal Reserve (The Fed) menggantikan Jerome Powell pekan ini. Kebijakan Warsh mengenai suku bunga menjadi faktor kunci bagi kekuatan dolar AS dan harga emas.

Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, sebelumnya telah memberikan tekanan agar suku bunga tetap rendah. Saat berbicara kepada CNBC International pada April lalu, Trump menyatakan akan merasa kecewa jika Warsh tidak segera melakukan pemangkasan suku bunga.

Di sisi lain, Warsh memberikan penegasan mengenai independensi bank sentral saat menjawab pertanyaan para senator.

"Presiden tidak pernah meminta saya untuk menentukan, berkomitmen, menetapkan, atau memutuskan kebijakan suku bunga dalam setiap diskusi kami, dan saya tidak akan pernah setuju melakukan itu," ujar Warsh.

Pasar saat ini tengah menanti pengumuman suku bunga The Fed pada 17 Juni mendatang. Merujuk data CME FedWatch Tool, terdapat peluang 98 persen bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.

Douglas Porter, Chief Economist Bank of Montreal, berpendapat bahwa probabilitas pemangkasan suku bunga pada tahun ini masih tergolong sangat rendah berdasarkan kalkulasi pasar.

"Bahkan untuk tahun depan, pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada 2027," katanya.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memaparkan bahwa lonjakan emas di awal 2026 dipicu oleh serangan Iran ke Israel. Namun, aksi ambil untung mulai terjadi seiring pencalonan Kevin Warsh yang dikenal memiliki kecenderungan hawkish atau pro suku bunga tinggi.

"Ini membuat fenomena taking profit dan harga emas turun. Harga kemudian berangsur naik tapi masih sulit mendekati level US$5.000," kata Ibrahim.

Situasi semakin kompleks ketika Iran memperluas serangan ke wilayah Teluk dan menutup Selat Hormuz. Kondisi ini membuat pelaku pasar mengalihkan aset mereka dari emas menuju minyak mentah dan dolar AS sebagai pelindung nilai atau safe haven baru.

Meskipun demikian, Ibrahim mencatat bahwa fundamental emas tetap kokoh karena permintaan bank sentral dunia masih tinggi. People's Bank of China, misalnya, telah membeli 7,15 ton emas pada kuartal I/2026 guna memperkuat cadangan devisa.

Ibrahim memprediksi harga emas memiliki potensi untuk kembali menguat jika tercapai kesepakatan damai antara AS dan Iran yang akan menekan harga minyak serta dolar.

"Sebenarnya harga emas di US$4.700 ini secara jangka pendek turun, tapi jangka menengah dalam 2026 kemungkinan besar akan naik. Saya masih optimis di US$5.500 sampai US$6.000 kemungkinan besar akan tercapai di akhir tahun ini," tuturnya.