Pentagon: Pembersihan ranjau di Hormuz bisa berlangsung enam bulan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Washington (ANTARA) - Pejabat pertahanan Amerika Serikat (AS) di Pentagon pada pekan ini menyatakan, kemungkinan diperkukan wakut hingga enam bulan untuk membersihkan Selat Hormuz sepenuhnya dari ranjau militer Iran.

Dilaporkan The Washington Post, Rabu (22/4), pernyataan itu merupakan penilaian intelijan yang disampaikan pejabat tersebut kepada para anggota Komite Angkatan Bersenjata Dewan Perwakilan Rakyat AS pada Selasa (21/4).

Namun operasi tersebut, pejabat itu melanjutkan, belum dapat dilaksanakan hingga perang AS-Israel dan Iran berakhir. Itu berarti harga bensin dan minyak berpotensi tetap tinggi hingga pemilihan umum (pemilu) sela AS.

Menurut pihak AS, Iran kemungkinan telah memasang 20 atau lebih ranjau di dalam dan di sekitar selat tersebut. Beberapa di antaranya diapungkan dari jarak jauh menggunakan teknologi GPS, yang menyulitkan pasukan AS untuk mendeteksi ranjau-ranjau itu saat dipasang. Ranjau-ranjau lainnya diyakini dipasang oleh pasukan Iran menggunakan kapal kecil.

Pengungkapan informasi tersebut disampaikan dalam sebuah rapat tertutup bagi para anggota parlemen, sebagaimana diakui oleh Sean Parnell, juru bicara Pentagon, dalam sebuah pernyataan. Dia juga mengkritik laporan-laporan terkait sebagai laporan yang "tidak akurat."

"Seperti yang telah kami sampaikan pada Maret, satu penilaian saja tidak berarti penilaian itu masuk akal, dan penutupan Selat Hormuz selama enam bulan merupakan hal yang mustahil dan sama sekali tidak dapat diterima oleh Menteri (Perang AS)," tutur Parnell, tanpa memerinci berapa lama waktu yang sebenarnya dibutuhkan.

Presiden AS Donald Trump pada Rabu yang sama mengatakan kepada Fox News bahwa tidak ada "kerangka waktu" untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran.

Pewarta: Xinhua
Editor: Michael Teguh Adiputra Siahaan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.