Perang Iran Sebabkan Pasokan Satu Miliar Barel Minyak Global Lenyap

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Konflik bersenjata yang melanda Iran telah mengakibatkan gangguan pasokan minyak mentah paling masif dalam sejarah dunia. Penutupan Selat Hormuz secara efektif menjadi faktor utama yang memicu hilangnya volume minyak dalam jumlah besar dari pasar global.

Hingga saat ini, krisis tersebut telah melenyapkan pasokan sebesar satu miliar barel minyak. Angka kerugian pasokan ini diprediksi bakal membengkak hingga 1,5 miliar barel apabila peperangan terus berlanjut tanpa kepastian damai.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, Saad Rahim selaku Kepala Ekonom Trafigura Group mengungkapkan data tersebut dalam acara FT Commodities Global Summit di Lausanne pada Selasa, 21 April 2026. Menurutnya, pasar saat ini belum sepenuhnya mencerminkan skala gangguan yang sebenarnya.

"Skala konflik tampaknya menjadi sesuatu yang sulit dipahami oleh pasar," kata Rahim.

Rahim menjelaskan bahwa meskipun kesepakatan damai nantinya tercapai, aliran minyak tidak bisa langsung kembali normal. Terdapat jeda waktu yang cukup lama untuk memulihkan distribusi, sehingga muncul kesenjangan lebar antara persepsi pasar dengan kenyataan di lapangan.

Kekhawatiran serupa disampaikan oleh Frederic Lasserre, Kepala Analisis di Gunvor Group. Ia memperingatkan bahwa pasar minyak akan mencapai titik terendah atau benar-benar kehabisan persediaan jika pertempuran tetap berlangsung selama satu bulan ke depan.

Kondisi ini diperparah dengan fluktuasi tajam pada kontrak berjangka minyak Brent. Harga sempat meroket hingga mendekati angka US$120 per barel sebelum akhirnya mengalami penurunan di level US$95 per barel karena harapan adanya negosiasi damai.

Direktur Riset Energy Aspects, Amrita Sen, turut memberikan pandangan pesimistis dalam panel diskusi yang sama. Ia meragukan aliran minyak yang melewati Selat Hormuz bisa kembali ke level semula seperti sebelum perang pecah.

"Ada kemungkinan bahwa aliran minyak melalui Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke level sebelum perang," ujar Sen.

Dampak pada Produk Turunan Minyak

Selain minyak mentah, sektor produk bersih seperti bensin juga terdampak sangat serius. Energy Aspects memperkirakan sekitar 450 juta barel produk bensin dan sejenisnya akan hilang dari peredaran akibat hambatan logistik di wilayah konflik tersebut.

Estimasi kerugian tersebut disusun berdasarkan asumsi optimistis bahwa Selat Hormuz akan mulai dibuka kembali sebesar 50 persen pada bulan depan. Namun, jika pembukaan jalur perdagangan internasional itu tertunda, angka kehilangan produk energi di tingkat global dipastikan akan jauh lebih tinggi.