Kuningan, Jawa Barat (ANTARA) - Kementerian Kehutanan menyatakan bahwa perempuan merupakan kelompok yang paling rentan terdampak krisis iklim, terutama terkait dengan ketersediaan sumber daya air di wilayah pedesaan.
Project Manager FOLU Net Sink 2&3 Kemenhut, Arga Paradita Sutiyono mengatakan bahwa fenomena pemanasan global bukan sekadar masalah kenaikan suhu, melainkan ancaman terhadap kerentanan hidup berbasis gender.
"Dampak krisis iklim terhadap perempuan sangat tinggi. Contoh paling sederhana di desa, rata-rata perempuan yang bertugas mengambil air. Jika krisis iklim menyebabkan mata air hilang, perempuan harus menempuh jarak lebih jauh untuk mendapatkan air," katanya dalam forum diskusi "Sinergi Perempuan Indonesia Untuk Indonesia FOLU NET SINK 2030" di Taman Nasional Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat, Senin.
Baca juga: Kalsel tuntas tanam 148,5 ha FOLU Net Sink Norwegia di dua KTH
Terkait hal tersebut, Arga memastikan bahwa pelaksanaan program mitigasi perubahan iklim melalui Indonesia FOLU Net Sink 2030 telah mengintegrasikan prinsip safeguard untuk menjamin perlindungan sosial dan lingkungan, termasuk keadilan gender.
Ia menjelaskan bahwa keadilan gender dalam program kehutanan tidak hanya bicara soal perbedaan biologis laki-laki dan perempuan, tetapi lebih kepada peran, akses dan partisipasi yang setara dalam setiap program, termasuk bagi penyandang disabilitas.
"Dalam pelaksanaan program ini, jangan sampai kita melupakan isu gender. Akses dan partisipasi harus setara. Hal ini penting agar aksi menanam pohon dan menjaga hutan tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memberikan perlindungan sosial bagi kelompok rentan," ujarnya.
Kegiatan Sinergi Perempuan Indonesia untuk Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 ini dilaksanakan pada 11-13 Mei 2026 di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat.
Kegiatan diikuti sejumlah perwakilan kementerian - lembaga pemerintah dari bidang kehumasan dan protokoler, berikut sejumlah lembaga konservasi swadaya masyarakat dan pewarta nasional di Kementerian Kehutanan.
Kegiatan edukatif dan inspiratif yang diinisiasi Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri
Kementerian Kehutanan itu mengangkat peran perempuan Indonesia dalam aksi nyata pengelolaan hutan serta pencapaian target FOLU Net Sink 2030, sekaligus membangun narasi positif kebijakan kehutanan melalui komunikasi publik.
Baca juga: Fakultas Pertanian UMPR jadi implementator partner FOLU Net Sink 2030
Baca juga: Kemenhut soroti peran dunia usaha untuk capai FOLU Net Sink 2030
Kementerian Kehutanan mengharapkan kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antar- kementerian/lembaga, pemangku kepentingan, serta masyarakat dalam mendukung implementasi Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.
Dalam hal ini, pendekatan komunikasi publik yang efektif dan kolaborasi yang berkelanjutan, diharapkan terbangun pemahaman yang lebih komprehensif serta dukungan yang lebih luas terhadap agenda prioritas kehutanan nasional.
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·