PT Pertamina Patra Niaga mengklarifikasi informasi mengenai besaran subsidi bahan bakar minyak jenis Pertalite setelah sebuah video yang menunjukkan struk pembelian di SPBU Tol Jakarta-Merak viral di media sosial pada Senin (11/5/2026). Unggahan tersebut menyoroti harga Pertalite tanpa subsidi yang diklaim mencapai Rp 16.088 per liter.
Berdasarkan informasi dalam video tersebut, pemerintah mengucurkan subsidi sebesar Rp 6.088 per liter untuk setiap pembelian Pertalite, sehingga masyarakat hanya membayar Rp 10.000 per liter. Hal ini memicu pertanyaan publik mengenai alasan pemerintah lebih memprioritaskan subsidi bagi Pertalite dibandingkan Pertamax, dilansir dari Detik Finance.
Narator dalam video viral tersebut menilai harga Pertalite tanpa subsidi jauh lebih tinggi daripada Pertamax yang saat ini dibanderol Rp 12.300 per liter tanpa bantuan subsidi serupa. Menanggapi polemik tersebut, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M V Dumatubun memberikan penjelasan resmi mengenai regulasi penetapan harga.
Penegasan mengenai otoritas kebijakan subsidi disampaikan oleh Roberth untuk memperjelas posisi perusahaan dalam rantai distribusi bahan bakar nasional. Ia menekankan bahwa Pertamina hanya bertindak sebagai pelaksana tugas yang ditunjuk oleh negara.
"Kebijakan Program Subsidi BBM adalah kewenangan dan ditentukan oleh Pemerintah. Kebijakan tersebut tidak oleh Pertamina. Maka subsidi diberikan pada BBM JBKP yaitu Pertalite dan Pertamina sebagai operator Patuh kepada Kebijakan Pemerintah," ujar Robert kepada detikcom, Senin (11/5/2026).
Langkah pemberian subsidi ini dimaksudkan untuk menjaga stabilitas daya beli masyarakat serta mendukung keberlangsungan roda ekonomi secara nasional. Roberth menambahkan bahwa Pertamax merupakan kategori Bahan Bakar Minyak (BBM) Non Subsidi yang seharusnya mengikuti fluktuasi harga pasar global.
Meskipun berstatus non-subsidi, pemerintah saat ini tetap memegang peran penting dalam mengontrol harga Pertamax guna mencegah lonjakan yang terlalu tajam bagi konsumen. Hal ini menyebabkan harga Pertamax tetap stabil sejak penyesuaian terakhir pada 1 April 2026 lalu.
"Apabila Pertamax mengacu harga keekonomian yang seharusnya. Maka akan lebih mahal dari Pertalite tanpa subsidi," katanya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·