PT Pertamina (Persero) menjamin ketersediaan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional tetap berada dalam kondisi aman dan terkendali pada Kamis (7/5/2026). Langkah antisipasi ini diambil guna menghadapi dampak konflik bersenjata di Timur Tengah yang mengancam jalur pasokan minyak dunia.
Dilansir dari Detik Finance, tantangan besar muncul akibat ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berisiko mengganggu stabilitas energi global. Direktur Manajemen Risiko Pertamina, Ahmad Siddik Badruddin, mengungkapkan bahwa wilayah Asia sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah dengan porsi mencapai 20 hingga 30 persen.
"Dengan Selat Hormuz tertutup berarti ada sekitar 20% minyak mentah atau produk yang tidak bisa datang dari sana. Kita sebagai fungsi manajemen risiko harus bisa mengantisipasi," ujar Ahmad Siddik Badruddin, Direktur Manajemen Risiko Pertamina.
Kondisi tersebut memicu persaingan antarnegara dalam memperebutkan sumber minyak baru menyusul potensi tersendatnya distribusi di jalur laut strategis. Ahmad menegaskan bahwa situasi ini membuat upaya pemenuhan energi menjadi lebih sulit karena krisis tidak hanya dialami Indonesia melainkan secara global.
"Pekerjaan kita lebih challenging karena kebutuhan energi problem itu tidak hanya di-face oleh kita tapi juga semua negara di dunia. Akibatnya semua negara di dunia pun bersaing untuk mendapatkan supply energi yang sebagian stuck di Selat Hormuz," paparnya Ahmad Siddik Badruddin, Direktur Manajemen Risiko Pertamina.
Guna memitigasi risiko tersebut, Pertamina telah menyiapkan strategi berupa pengalihan sumber minyak mentah serta optimalisasi kapasitas produksi di dalam negeri. Perusahaan plat merah ini memiliki fleksibilitas operasional pada enam kilang minyak yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
"Kita punya 6 kilang di Indonesia untuk bisa dimodifikasi mode of operation-nya untuk menyesuaikan dengan kondisi saat ini. Nah inilah tugas kita di manajemen risiko untuk menguraikan semua jenis risiko," jelas Ahmad Siddik Badruddin, Direktur Manajemen Risiko Pertamina.
Selain strategi teknis, keterlibatan sumber daya manusia atau Perwira Pertamina dianggap krusial dalam menjaga keandalan operasional dari sektor hulu hingga hilir. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya gangguan teknis yang dapat menghambat distribusi energi ke masyarakat.
"Semua perwira Pertamina dari Sabang sampai Merauke mempunyai peran yang penting. Pertama untuk memastikan kita beroperasi secara lancar Tidak ada potensi unplanned shutdown, tidak ada potensi incident," tutur Ahmad Siddik Badruddin, Direktur Manajemen Risiko Pertamina.
Hingga saat ini, Pertamina mengeklaim belum terjadi kelangkaan energi baik untuk jenis BBM maupun LPG di pasar domestik. Manajemen berkomitmen untuk terus mempertahankan stabilitas pasokan meskipun situasi geopolitik internasional masih belum menentu.
"Sehingga Alhamdulillah sampai sekarang dengan kondisi Timur Tengah sekarang kita tidak pernah ada kondisi kelangkahan energi Mudah-mudahan kita terus bisa jaga seperti itu," pungkas Ahmad Siddik Badruddin, Direktur Manajemen Risiko Pertamina.
6 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·