PLTU Batu Bara China Tumbuh Empat Bulan Beruntun akibat Krisis Energi Iran

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Kapasitas pembangkit listrik tenaga uap atau PLTU berbahan bakar batu bara di China mencatatkan pertumbuhan selama empat bulan berturut-turut hingga April 2026. Peningkatan ini tetap terjadi di tengah penurunan produksi komoditas tersebut.

Seperti dilansir dari Bloombergtechnoz, tren ini menggarisbawahi beratnya tantangan yang dihadapi pemerintah Beijing dalam memproteksi roda ekonomi dari ancaman krisis energi global akibat berkecamuknya perang di Iran.

Kapasitas pembangkit listrik batu bara di Negeri Tirai Bambu tersebut mengalami kenaikan sebesar 3,1% pada April jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya demi mengejar lonjakan permintaan listrik nasional.

Sebaliknya, pasokan listrik dari sektor energi bersih seperti turbin angin dan reaktor nuklir justru dilaporkan menyusut. Di sisi lain, volume produksi batu bara domestik melemah 1% selama bulan April, yang biasanya menjadi periode pemeliharaan musiman.

Meski China mengawali tahun ini dengan cadangan batu bara melimpah hingga dikategorikan surplus, eskalasi konflik bersenjata di Iran mengubah total kalkulasi pasokan energi negara tersebut.

Blokade de facto yang terjadi di Selat Hormuz berimbas pada terhentinya sekitar seperlima pasokan gas alam cair atau LNG global. Situasi ini memaksa China memangkas volume impor LNG secara drastis menyusul lonjakan harga bahan bakar itu di pasar internasional.

Kondisi tersebut menempatkan batu bara sebagai tumpuan utama guna memasok sebagian besar energi bagi pembangkit listrik termal nasional.

Lonjakan Harga Batu Bara Domestik dan Hambatan Energi Bersih

Asosiasi Transportasi dan Distribusi Batu Bara China menginstruksikan setiap pembangkit listrik untuk mengamankan stok bahan bakar menjelang lonjakan permintaan pada musim panas. Langkah ini memicu kenaikan harga batu bara termal acuan domestik hingga 23% sejak awal tahun.

Kendati demikian, reli kenaikan harga mulai kehilangan tenaga belakangan ini. Perusahaan utilitas mulai menolak lonjakan biaya operational, sementara para pedagang mencemaskan potensi intervensi pemerintah melalui pembatasan harga jika nilai komoditas dinilai terlalu tinggi.

Di waktu yang sama, sektor energi bersih belum mampu menyajikan pertumbuhan yang konsisten. Padahal, stabilitas energi terbarukan tahun lalu sukses menekan ketergantungan China pada pembangkit listrik berbasis fosil untuk pertama kalinya dalam satu dekade.

Penurunan Performa Turbin Angin dan Reaktor Nuklir

Faktor cuaca yang kurang berangin tahun ini membuat performa turbin angin melorot. Output dari pembangkit tenaga angin merosot 5% pada April dibandingkan tahun lalu, sekalipun China sudah memecahkan rekor pemasangan turbin baru pada periode berikutnya.

Pembangkit listrik tenaga nuklir atau PLTN turut menyumbang penurunan produksi listrik karena sejumlah reaktor harus dinonaktifkan demi menjalani proses pemeliharaan berkala. Kendati begitu, sektor tenaga surya dan pembangkit listrik tenaga air skala utilitas terpantau mengalami kenaikan.

Merosotnya kinerja energi terbarukan ini memicu kekhawatiran besar lantaran proyek penambahan turbin dan panel surya baru anjlok drastis dari rekor pertumbuhan tahun lalu. Pembatasan operasional juga kian meningkat.

Guna mengatasi hambatan distribusi listrik bersih agar bisa disalurkan dalam durasi yang lebih panjang setiap harinya, operator jaringan saat ini tengah berpacu membangun jalur transmisi baru dan fasilitas penyimpanan baterai berskala besar.