Kenaikan BI Rate Tekan Sektor Properti dan Teknologi

Sedang Trending 42 menit yang lalu

JAKARTA, KOMPAS.com - Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) dinilai memberikan tekanan terhadap sejumlah sektor di pasar modal, terutama emiten properti, teknologi, dan perusahaan dengan tingkat utang tinggi.

Di sisi lain, sektor perbankan dan konsumer primer alias noncyclicals diperkirakan mendapat sentimen positif di tengah era suku bunga tinggi.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan sektor properti dan real estate menjadi salah satu sektor yang paling rentan terdampak negatif ketika suku bunga naik.

Menurutnya, kenaikan BI Rate berpotensi langsung mendorong kenaikan bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sehingga daya beli masyarakat terhadap properti menurun. Kondisi ini dapat menekan penjualan atau marketing sales emiten properti.

“Sektor properti dan real estate. Kenaikan BI-Rate berpotensi langsung mengerek suku bunga KPR, hal ini menurunkan daya beli masyarakat terhadap properti dan menekan penjualan emiten (marketing sales),” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Rabu malam (20/5/2026).

Selain properti, sektor teknologi juga berpotensi menghadapi tekanan.

Mayoritas perusahaan teknologi masih mengandalkan pendanaan eksternal untuk melakukan ekspansi bisnis.

Ketika suku bunga meningkat, biaya pendanaan menjadi lebih mahal sehingga ekspansi usaha berpotensi melambat.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga juga cenderung menekan valuasi saham-saham berbasis pertumbuhan atau growth stocks yang selama ini banyak terdapat di sektor teknologi.

“Sektor teknologi. Mayoritas perusahaan teknologi mengandalkan pendanaan eksternal untuk ekspansi. Suku bunga tinggi membuat biaya ekspansi mahal dan menekan valuasi saham pertumbuhan,” tukasnya.

Nafan menambahkan, sektor siklikal dengan tingkat utang tinggi juga menjadi kelompok yang rentan terdampak negatif.

Emiten yang memiliki rasio debt-to-equity ratio (DER) tinggi, khususnya dengan bunga pinjaman floating rate, akan menghadapi kenaikan beban bunga yang dapat menggerus profitabilitas perusahaan.

“Sektor siklikal dengan utang tinggi. Emiten yang memiliki rasio Debt-to-Equity (DER) tinggi dengan bunga mengambang (floating rate) akan langsung mengalami lonjakan beban keuangan,” lanjut dia.

Meski demikian, tidak semua sektor terkena dampak negatif dari kenaikan suku bunga.

Sektor perbankan, terutama kelompok bank besar KBMI IV, justru diperkirakan memperoleh keuntungan dalam jangka pendek.

Nafan mencatat, perbankan dapat memanfaatkan momentum kenaikan suku bunga dengan menaikkan bunga kredit lebih cepat dibandingkan bunga simpanan atau deposito.

Kondisi ini berpotensi memperlebar Net Interest Margin (NIM) sehingga mendukung pertumbuhan pendapatan bunga bank.

“Perbankan dapat memanfaatkan momentum ini untuk menaikkan suku bunga kredit lebih cepat daripada suku bunga simpanan (deposito), yang berpotensi memperlebar Net Interest Margin (NIM) mereka dalam jangka pendek,” kata Nafan.

Selain perbankan, sektor konsumer primer atau noncyclicals juga dinilai relatif defensif di tengah kenaikan suku bunga.

Hal ini karena produk-produk kebutuhan pokok tetap dibutuhkan masyarakat meskipun kondisi ekonomi sedang mengalami tekanan.

Dengan karakter bisnis yang lebih stabil, sektor konsumer primer diperkirakan mampu menjaga kinerja keuangan saat volatilitas pasar akibat kebijakan suku bunga tinggi.

“Sektor konsumer primer. Sektor ini bersifat defensif karena produknya tetap dibutuhkan masyarakat terlepas dari kondisi suku bunga, sehingga kinerja keuangannya relatif stabil,” ungkapnya.