Polisi Gerebek Daycare di Jogja Terkait Dugaan Penganiayaan 53 Anak

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Aparat Polresta Jogja menggerebek tempat penitipan anak Little Aresha di Umbulharjo, Kota Jogja, pada Jumat (24/4/2026) atas dugaan penganiayaan terhadap puluhan balita. Dilansir dari Detikcom, petugas menemukan bukti perlakuan tidak manusiawi saat mendatangi lokasi kejadian secara langsung.

Kasat Reskrim Polresta Jogja, Kompol Riski Adrian menjelaskan bahwa penggerebekan tersebut didasari temuan lapangan mengenai kondisi anak-anak yang memprihatinkan di dalam tempat penitipan. Tindakan hukum segera diambil setelah petugas melihat situasi di lokasi tersebut.

"Benar pada tanggal 24 kemarin kita telah melakukan penggerebekan di mana itu tempat penitipan anak di mana petugas kita memang melihat langsung bahwa anak tersebut diperlakukan tidak manusiawi," kata Kompol Riski Adrian, Kasat Reskrim Polresta Jogja.

Penyidik mengidentifikasi adanya tindakan kekerasan fisik yang dilakukan secara spesifik terhadap para korban selama berada di bawah pengawasan pengasuh. Adrian menyebutkan beberapa bentuk kekerasan yang ditemukan oleh tim di lapangan.

"Tapi memang secara kesimpulan memang itu tidak manusiawi. Karena ada juga yang kakinya diikat, tangannya diikat dan sebagainya. Secara umum seperti itu yang bisa saya jelaskan," sambung Kompol Riski Adrian, Kasat Reskrim Polresta Jogja.

Berdasarkan data pemeriksaan sementara, kepolisian mencatat terdapat 53 anak yang diduga menjadi korban tindakan kekerasan di lembaga tersebut. Jumlah ini masih berpotensi meningkat seiring dengan proses penyelidikan yang terus berjalan.

"Kalau untuk yang kita lihat ada tindakan kekerasannya itu sekitar 53 orang. By data ya," ungkap Kompol Riski Adrian, Kasat Reskrim Polresta Jogja.

Noorman Windarto, salah satu orang tua korban, mengungkapkan kekecewaannya setelah mengetahui jumlah anak yang dititipkan tidak sebanding dengan fasilitas yang tersedia. Ia mengaku baru menyadari kondisi tersebut setelah melihat bukti video yang dimiliki pihak kepolisian.

"Kita ya percaya saja kalau tempatnya luas dan yang bikin konyol kami itu kita nggak nanyakan di sana tuh sebenarnya sudah ada berapa anak," terang Noorman Windarto, Orang Tua Korban.

Noorman yang hadir saat proses penggerebekan pada Jumat (24/4) menyatakan bahwa situasi di dalam tempat penitipan anak itu sangat tidak layak. Ia mengibaratkan kekejaman di lokasi tersebut melebihi kamp tahanan militer yang kontroversial.

"Ternyata begitu pas tahu di sana ada 50 lebih ya, anak yang usia bayi sampai balita tuh, wah luar biasa ternyata nggak manusiawi, kalau sama Kamp Guantanamo katanya lebih sadis kamp ini," sambung Noorman Windarto, Orang Tua Korban.

Kondisi psikologis Noorman terdampak hebat setelah menyaksikan rekaman perlakuan pengasuh terhadap anak-anak, termasuk buah hatinya sendiri. Ia memilih untuk menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada pihak berwajib karena tidak sanggup melihat rekaman tersebut lebih lanjut.

"Saya juga akhirnya trauma Mas, saya trauma di sini kalau lihat (video) itu pasti nangis saya. Jadi saya memutuskan ya sudahlah yang penting ini sudah jadi barang bukti, saya percayakan kepada polisi," imbuh Noorman Windarto, Orang Tua Korban.

Merespons kejadian ini, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menemui para orang tua korban pada Minggu (26/4/2026) untuk mencari solusi penanganan pascatrauma. Pemerintah kota berkomitmen memberikan bantuan ahli untuk memulihkan kondisi mental anak-anak dan orang tua.

"Pada prinsipnya mereka minta perlindungan untuk anaknya dibantu, karena anak-anak ini sekarang dirasakan ada secara psikologis ada tanda-tanda yang kurang sehat," jelas Hasto Wardoyo, Wali Kota Jogja.

Hasto menambahkan bahwa tim pendampingan akan segera dibentuk dengan melibatkan berbagai pakar lintas disiplin. Fokus utama tim ini adalah memastikan tumbuh kembang korban tetap terjaga meskipun telah mengalami trauma berat.

"Kita segera membentuk tim untuk mendampingi anaknya, tentu butuh psikologi anak, butuh ahli gizi anak, butuh ahli parenting," papar Hasto Wardoyo, Wali Kota Jogja.

Selain pendampingan untuk anak, pemerintah daerah juga memperhatikan kondisi mental para orang tua yang merasa terkejut dan tertekan atas peristiwa ini. Pendampingan psikologis khusus akan diberikan agar para orang tua bisa mendampingi pemulihan anak mereka dengan stabil.

"Yang kedua, orang tua juga mengalami suatu, stres, terkejut, sehingga tadi menangis (saat) menyampaikan. Sehingga mereka juga menginginkan pendampingan psikologis," sambung Hasto Wardoyo, Wali Kota Jogja.

Kebutuhan mendesak lainnya yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah pencarian tempat penitipan anak pengganti yang aman bagi para orang tua pekerja. Pemerintah Kota Jogja sedang mengidentifikasi lembaga legal yang memiliki rekam jejak baik untuk menampung para korban.

"Besok pagi anaknya mau dititipkan kemana, ini suatu hal yang urgen dan emergency, karena mereka pada umumnya kerja. Kami segera mengidentifikasi daycare-daycare lainnya yang aman, amanah, baik, yang sehat," ujarnya Hasto Wardoyo, Wali Kota Jogja.

Sebagai langkah pencegahan jangka panjang, Hasto memerintahkan jajarannya untuk melakukan pendataan menyeluruh dan pemeriksaan mendadak terhadap seluruh tempat penitipan anak di Yogyakarta. Fasilitas yang beroperasi tanpa izin resmi akan segera ditindak tegas berupa penutupan operasional.

"Paling lama dua hari kita sudah tahu semua status daycare yang ada di kota Jogja. Tanpa izin itu jelas ilegal, harus segera ditutup. Pasti (langsung ditutup yang tidak berizin), salah satu syarat izin kan divisitasi," tegas Hasto Wardoyo, Wali Kota Jogja.