Ray Dalio Sebut Bitcoin Tidak Cocok Jadi Cadangan Bank Sentral

Sedang Trending 53 menit yang lalu

Miliarder pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, menyatakan bahwa transparansi penuh Bitcoin menjadi hambatan utama bagi bank sentral untuk mengadopsinya sebagai aset cadangan global dalam sebuah unggahan di media sosial X pada Senin, 11 Mei 2026.

Dalio berpendapat bahwa sifat buku besar publik pada blockchain memungkinkan pemantauan transaksi secara real-time yang tidak diinginkan oleh institusi moneter negara. Menurutnya, Bitcoin juga memiliki korelasi tinggi dengan saham teknologi sehingga kurang ideal sebagai pelindung nilai dibandingkan emas.

"Bitcoin lacks privacy. Transactions can be monitored and potentially controlled, which is why central banks aren't looking to hold it." ujar Ray Dalio, Investor Bitcoin.

Penjelasan tersebut merujuk pada mekanisme pelacakan alamat dompet digital yang meski bersifat anonim, tetap dapat ditelusuri oleh firma analitik blockchain dan penegak hukum. Dalio menegaskan bahwa emas tetap lebih unggul karena perannya yang sudah mapan dalam sistem keuangan global.

"Ultimately, gold is more widely held, deeply established, and still plays a central role in the global system," kata Ray Dalio, Pendiri Bridgewater Associates.

Pernyataan ini memicu respons keras dari para petinggi industri kripto yang menilai transparansi justru merupakan keunggulan utama aset digital tersebut. Michael Saylor dari Strategy menanggapi dengan membandingkan karakteristik fisik emas dan efisiensi digital Bitcoin.

"Gold is analog capital. Bitcoin is digital capital," tulis Michael Saylor, Executive Chairman Strategy.

Saylor menambahkan bahwa kinerja Bitcoin telah melampaui emas dengan rasio Sharpe yang lebih tinggi sejak perusahaannya mulai mengadopsi strategi perbendaharaan berbasis Bitcoin pada Agustus 2020. Ia menekankan bahwa sifat terbuka Bitcoin memungkinkan aset ini berfungsi sebagai jaminan global.

"Transparency is a feature, not a bug, making $BTC suitable as global collateral." tulis Michael Saylor melalui akun media sosialnya.

Senada dengan Saylor, Samson Mow juga menolak argumen Dalio mengenai keterbatasan privasi pada jaringan blockchain tersebut. Ia menyarankan agar investor kawakan itu mempelajari lebih dalam mengenai teknologi enkripsi yang ada.

"Bitcoin doesn’t lack privacy at all. You need to educate yourself," tulis Samson Mow, Eksekutif Kripto.

Data dari TradingView menunjukkan koefisien korelasi 90 hari antara Bitcoin dan indeks Nasdaq mencapai 0,89, yang berarti 79 persen pergerakan harga Bitcoin searah dengan saham teknologi. Per 12 Mei 2026, harga Bitcoin berada di level 79.629 dolar AS, sementara emas mengalami penurunan sekitar 15 persen sejak mencapai rekor tertingginya pada Januari lalu.

"While Bitcoin gets a lot of attention, it hasn’t played the safe-haven role many expected," tulis Ray Dalio dalam unggahan terbarunya.

Hingga saat ini, Strategy tetap menjadi pemegang korporasi Bitcoin terbesar dengan total kepemilikan mencapai 818.000 BTC. Meskipun harga Bitcoin saat ini masih berada 35 persen di bawah rekor tertinggi 126.000 dolar AS, sentimen ritel di platform Stocktwits terpantau tetap aktif di level netral.

"Bitcoin does not have privacy," kata Ray Dalio dalam wawancara di All-In Podcast.

Ia memprediksi bank sentral tidak akan menyimpan Bitcoin dalam jumlah signifikan di masa depan. Dalio menutup argumennya dengan menyatakan bahwa transaksi aset digital ini berisiko untuk dipantau dan dikendalikan secara tidak langsung oleh otoritas tertentu.

"Any transactions can be monitored… and then indirectly perhaps controlled." kata Ray Dalio, Miliarder Hedge Fund.