Revolusi Prancis di Horsens

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Karena revolusi Prancis sudah dimulai, dan Indonesia, yang sempat menjadi korban revolusi itu di Horsens, perlu segera menulis jawaban agar tak digulung ombak revolusi lagi.

Jakarta (ANTARA) - Horsens, Denmark, melahirkan kisah yang mungkin beberapa tahun lalu sulit dibayangkan. Prancis, negara yang dulu lebih sering disebut sebagai peserta pelengkap dalam peta bulu tangkis elite dunia, kini berdiri di final Piala Thomas 2026.

Prancis .tidak sekadar lolos ke partai puncak Mereka datang dengan cara yang meyakinkan, menyingkirkan India 3-0 di semifinal setelah sebelumnya melewati lawan-lawan berat.

Ini bukan kejutan satu malam. Tapi hasil dari proses panjang yang kini mencapai panggung terbesar.

Bulu tangkis beregu putra selama puluhan tahun identik dengan nama-nama lama. Indonesia, China, Malaysia, Denmark, Jepang, Korea Selatan, hingga India dalam periode terbaru, menjadi negara-negara yang biasa muncul di fase akhir.

Prancis nyaris tak pernah masuk percakapan utama. Bahkan pencapaian terbaik mereka sebelumnya hanya menembus perempat final pada 2014 dan 2018. Setelah itu, dalam edisi 2020 dan 2022, Prancis tersingkir di fase grup.

Pada edisi 2024, Prancis bahkan memilih mundur. Federasi Bulu Tangkis Prancis (FFBad) menarik keikutsertaan tim Thomas dan Uber demi fokus menatap Olimpiade Paris 2024.

Lewat pernyataan resmi pada 5 Maret 2024, FFBad menjelaskan keputusan itu diambil agar para pemain mendapat waktu istirahat cukup setelah menjalani jadwal padat selama periode kualifikasi Olimpiade.

Saat itu, posisi Prancis di Piala Thomas digantikan Republik Ceko sebagai wakil Eropa berikutnya.

Kini, dua tahun berselang, keputusan tersebut seperti bagian dari strategi jangka panjang. Setelah menata ulang prioritas, Prancis datang ke Horsens dengan wajah berbeda.

Keadaan berubah.

Di Horsens, Prancis seperti mengetuk pintu tradisi dengan keras. Mereka tidak meminta izin untuk masuk ke jajaran elite. Mereka langsung mengambil tempat.

Kemenangan atas India menjadi gambaran jelas tentang kematangan tim ini.

Christo Popov membuka keunggulan dengan menundukkan Ayush Shetty 21-11, 21-9. Popov bermain rapi, disiplin, dan tahu kapan menekan. Ia tak memberi ruang bagi Shetty untuk mengembangkan permainan menyerang.

Setelah itu giliran Alex Lanier menghadapi Kidambi Srikanth. Di atas kertas, Srikanth unggul pengalaman. Namun Lanier yang berusia 21 tahun menunjukkan bahwa generasi baru Prancis datang dengan keberanian besar. Ia lebih tenang dalam momen-momen krusial dan menang 21-16, 21-18.

Toma Junior Popov kemudian memastikan kemenangan atas HS Prannoy pada partai ketiga dengan skor 21-19, 21-16.

Lagi-lagi Prancis menyapu bersih sektor tunggal. Di sinilah kekuatan utama mereka saat ini.

Dalam format Piala Thomas, memiliki tiga tunggal hidup adalah kemewahan. Banyak tim kuat hanya punya satu atau dua tunggal yang benar-benar stabil. Prancis datang dengan tiga nama yang bisa diandalkan sekaligus.

Mereka bukan tim yang bergantung pada satu superstar. Mereka hadir sebagai satu kesatuan.

Baca juga: Ketika sejarah memilih tidak campur tangan di Horsens

Baca juga: Pengamat sebut kegagalan di Piala Thomas harus dimaknai secara serius

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.