Nilai tukar rupiah merosot ke level terendah sepanjang masa setelah ditutup pada angka Rp 17.286 per dollar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan Kamis (23/4/2026). Dilansir dari Money, mata uang Garuda ini tercatat melemah sebesar 0,61 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp 17.181 per dollar AS.
Pergerakan pasar menunjukkan tekanan besar sejak pembukaan perdagangan di mana rupiah sempat menyentuh level psikologis Rp 17.300 per dollar AS. Pada pukul 09.35 WIB, nilai tukar bahkan sempat merosot lebih dalam hingga mencapai angka Rp 17.312 per dollar AS sebelum akhirnya sedikit menguat di akhir sesi.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata menilai pelemahan ini tidak hanya dipicu oleh penguatan dollar global mengingat indeks dollar cenderung stabil. Ia menyoroti perlunya tinjauan terhadap kebijakan domestik serta dampak kenaikan harga minyak dunia yang menembus 100 dollar AS per barel terhadap beban fiskal negara.
"Dalam konteks ini, perlu ada evaluasi terhadap bauran kebijakan pemerintah dan otoritas moneter," ujar Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas.
Kondisi ini diperparah dengan ketidakpastian pengadaan energi dari luar negeri di tengah beban subsidi yang belum disesuaikan. Prioritas belanja negara seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi sorotan dalam menjaga ketahanan anggaran nasional.
"Berapa harga dan kapan minyak Rusia tiba dan bisa amankan supply BBM di Indonesia, masih belum jelas," imbuh Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas.
Sektor perbankan juga menghadapi tantangan setelah munculnya outlook negatif dari lembaga pemeringkat internasional. Liza menekankan pentingnya efektivitas investasi melalui lembaga pengelola dana pemerintah agar memberikan dampak ekonomi yang terukur.
"Efektivitas alokasi dan kualitas investasi perlu menjaga agar dapat memberikan dampak nyata terhadap perekonomian, bukan sekadar akumulasi dana tanpa arah yang jelas," ungkap Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pemerintah tetap memantau situasi ini sebagai dampak dari gejolak global. Ia mengingatkan bahwa asumsi nilai tukar dalam RAPBN 2026 ditetapkan pada level Rp 16.500 per dollar AS.
“Ya, kan, itu lihat gejolak, gejolak global juga (jadi pengaruh utama). Jadi, ya, kita monitor saja,” kata Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menjelaskan bahwa pelemahan rupiah sebesar 3,54 persen secara year-to-date masih sejalan dengan tren mata uang di kawasan Asia. Bank Indonesia mengeklaim telah meningkatkan intervensi di berbagai pasar keuangan untuk menstabilkan kurs.
"Pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year-to-date sebesar 3,54 persen," ujar Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI.
Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menambahkan bahwa tingginya permintaan valuta asing di dalam negeri turut menekan rupiah. Kebutuhan tersebut dipicu oleh aliran dana jangka pendek, pembayaran dividen, serta menyempitnya surplus perdagangan akibat impor energi.
"Jadi itu yang membuat kenapa kalau kita lihat pergerakan rupiah untuk saat ini belum bisa dikatakan undervalue," ucap Myrdal Gunarto, Global Market Economist Maybank Indonesia.
Myrdal berpendapat bahwa derasnya arus keluar modal membuat pernyataan mengenai nilai rupiah yang berada di bawah nilai wajar menjadi tidak relevan saat ini.
"Jadi kalau kondisinya sekarang di saat terjadi di posisi hot money-nya itu masih hot flow dan trade surplus-nya juga tergerus, saya rasa sih sudah bukan statement yang tepat kalau dibilang rupiah kita masih undervalue," tutup Myrdal Gunarto, Global Market Economist Maybank Indonesia.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·