Rupiah Anjlok, Prabowo: Rakyat di Desa Enggak Pakai Dolar AS

Sedang Trending 53 menit yang lalu

PRESIDEN Prabowo Subianto tidak khawatir dengan melemahnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Prabowo menilai turunnya nilai tukar rupiah tidak langsung berdampak bagi masyarakat pedesaan.

Ketua Umum Partai Gerindra ini menilai saat ini banyak orang yang sering menyatakan ekonomi Indonesia dalam bahaya karena rupiah terus melemah. "Sekarang ada yang selalu, entah mengapa saya enggak mengerti, sebentar-sebentar bilang Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa, ya kan?" kata dia di Nganjuk, Jawa Timur pada Sabtu, 16 Mei 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Prabowo meminta agar masyarakat tidak terlalu khawatir dengan pergerakan rupiah terhadap dolar. Mantan menteri pertahanan ini menyebut kondisi Indonesia masih aman dibanding negara-negara lain, khususnya di sektor pangan dan energi.

Ia pun menanggapi santai kondisi tersebut karena masyarakat desa tidak menggunakan mata uang asing dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, ia tak khawatir dengan peringatan orang-orang soal rupiah yang melemah. "Rupiah begini, dolar begitu. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan?" ucapnya.

Pada perdagangan Jumat pagi, 15 Mei 2026, rupiah sempat melemah hingga ke level Rp 17.600 per dolar AS. Angka ini adalah yang tertinggi sejak krisis moneter Asia pada 1997-1998.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memprediksi nilai tukar rupiah akan menembus level Rp 18.000 per dolar AS pada Mei 2026. “Kalau seandainya tembus Rp 18.000 di bulan Mei ini, ada kemungkinan besar rupiah itu akan menembus level Rp 22.000,” kata Ibrahim dalam keterangannya pada Jumat, 15 Mei 2026.

Ia menilai, dua hari terakhir, yaitu Kamis 14 Mei dan Jumat 15 Mei, merupakan ujian bagi Indonesia. Sebab, pada saat perdagangan libur karena tanggal merah, tensi geopolitik di Timur Tengah terus memanas.

Sementara itu, kata Ibrahim, Bank Indonesia hanya bisa melakukan intervensi di pasar internasional selama periode libur. Oleh karena itu, dampak tekanan eksternal terhadap rupiah menjadi lebih besar. Namun, ia menilai kondisinya bisa saja berbeda saat perdagangan dibuka pada Senin, 18 Mei 2026.

Dari segi eksternal, Ibrahim menyebut menguatnya dolar AS dipengaruhi oleh arah kebijakan bank sentral atau The Federal Reserve (The Fed). The Fed diperkirakan tidak akan menurunkan suku bunga sepanjang 2026 karena kenaikan inflasi AS yang cukup signifikan.

Sementara itu dari segi internal, Ibrahim menyoroti besarnya tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebab, pelemahan rupiah berdampak pada melonjaknya belanja subsidi minyak.


Anastasya Lavenia Yudi berkontribusi dalam penulisan artikel ini