Rupiah Bergerak Fluktuatif di Level Rp17.130 Jelang Pengumuman BI Rate

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pergerakan fluktuatif pada perdagangan Rabu (22/4/2026) pagi di tengah penantian pasar terhadap pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Mata uang Garuda sempat menguat 0,06 persen ke level Rp17.130 per dolar AS sebelum kembali tertekan oleh tingginya permintaan valuta asing domestik.

Data Refinitiv menunjukkan apresiasi tipis pada pembukaan pasar Rabu pagi melanjutkan tren positif dari penutupan Selasa (21/4/2026) yang berada di posisi Rp17.140 per dolar AS. Namun, data Bloomberg mencatat rupiah sempat melemah 0,16 persen ke level Rp17.170 per dolar AS pada siang hari seiring menguatnya indeks dolar AS (DXY) ke posisi 98,353.

Ekonom Maybank, Myrdal Gunarto, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah belakangan ini dipicu oleh ketidakseimbangan antara pasokan valas dengan permintaan yang melonjak tajam. Kebutuhan tersebut muncul dari aksi jual investor asing di pasar keuangan domestik serta periode pembagian dividen emiten yang harus dikonversi ke mata uang asing.

"Jadi di saat permintaannya lebih tinggi dibandingkan dengan suplai valasnya itu yang membuat kenapa rupiah melemah," kata Myrdal Gunarto, Ekonom Maybank.

Faktor lain yang menekan nilai tukar adalah kebutuhan impor energi akibat kenaikan harga minyak dunia serta pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo. Meski demikian, Myrdal mencatat bahwa Bank Indonesia telah melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar spot maupun pasar sekunder surat utang negara.

"Investor asing yang berinvestasi di pasar saham kita menerima dividen, lalu dana tersebut ditransfer ke luar negeri. Mau tidak mau, rupiah harus ditukarkan ke valuta asing," lanjut Myrdal Gunarto.

Ia juga menyoroti hambatan penguatan rupiah akibat kondisi global yang belum kondusif bagi mata uang negara berkembang.

"Namun, kondisi global saat ini memang masih kurang kondusif untuk penguatan rupiah. Ditambah lagi dengan faktor musiman seperti pembagian dividen, yang turut meningkatkan permintaan valas," tutur Myrdal Gunarto.

Kepala Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, memproyeksikan Bank Indonesia akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen pada pertemuan April 2026. Keputusan ini dinilai realistis mengingat ketidakpastian pasar global dan memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

"Kami memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada April 2026. Hal ini disebabkan oleh tekanan yang masih berlanjut terhadap rupiah akibat ketidakpastian pasar keuangan global dan dampak meningkatnya tensi geopolitik, yakni perang Iran, Israel, dan AS," ujar Juniman, Kepala Ekonom Bank Maybank Indonesia.

Pengamat Rupiah dan Emas, Ibrahim Assuaibi, menambahkan bahwa potensi gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz berisiko memperlebar defisit anggaran pemerintah. Ia memprediksi posisi rupiah masih akan sulit kembali ke bawah level psikologis Rp17.000 dalam waktu dekat.

"Ketika harga minyak naik, pemerintah membutuhkan dolar lebih besar. Kondisi itu juga membutuhkan dana besar dan berpotensi memperlebar defisit anggaran," kata Ibrahim Assuaibi, Pengamat Rupiah dan Emas.

Ibrahim bahkan memperkirakan nilai tukar berpotensi melemah lebih jauh hingga ke kisaran Rp17.400 pada akhir April 2026.

"Karena Rp 17.000 itu adalah level support kunci, yang kemungkinan harga itu akan terus mengalami kenaikan," kata Ibrahim Assuaibi.