Rupiah Masih Terus Melemah, Kini 17.667 per Dolar AS

Sedang Trending 58 menit yang lalu

NILAI tukar rupiah mencetak rekor terendah dengan ditutup di level Rp 17.667 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026. Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah masih akan melemah di kisaran Rp 17.660-Rp 17.720 per dolar AS pada esok hari.

Ibrahim mengatakan, dari segi eksternal, perkembangan nilai tukar dipengaruhi oleh meningkatnya risiko inflasi yang didorong oleh tingginya harga minyak. “Prospek kebijakan moneter ketat dari The Fed semakin menguat karena harga energi yang lebih tinggi jelas telah memperlambat kemajuan disinflasi, mendorong inflasi semakin jauh dari target 2 persen The Fed,” ucap Ibrahim dalam keterangan tertulis pada Senin, 18 Mei 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Faktor lainnya yaitu terhentinya upaya mengakhiri perang di Timur Tengah setelah pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab (UEA) diserang. Menurut Ibrahim, serangan drone di UEA dan Arab Saudi serta retorika dari AS dan Iran menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi konflik.

Sementara itu di dalam negeri, Ibrahim menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengatakan masyarakat di desa tidak menggunakan dolar AS dalam aktivitas sehari-hari. Ibrahim menilai pernyataan Presiden Prabowo keliru.

“Kondisi masyarakat di desa saat ini lebih pandai dibandingkan masyarakat kota karena teknologi sudah merata,” ucap Ibrahim. Ia juga menyayangkan kegagalan orang-orang di sekitar Prabowo, terutama Sekretaris Kabinet, untuk mengarahkan pidato presiden agar sesuai protokol yang sudah ada.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo meyakini rupiah bakal berbalik menguat pada Juli atau Agustus 2026 setelah turun ke level 17.600 per dolar Amerika Serikat. Dia menjelaskan pergerakan tersebut mengikuti pola yang selama ini terjadi setiap rupiah tertekan.

“Pengalaman dari kami, saya tidak ingin sombong, kebetulan saya hidup dari krisis ke krisis, 1997-1998 saya ikut di sana. (Tahun) 2008 kondisi global, taper tantrum juga seperti itu. Covid juga begitu, memang tekanan-tekanan nilai tukar itu umumnya kalau Juli-Agustus akan menguat,” ucap Perry saat rapat dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat di Senayan, Senin, 18 Mei 2026.

Ilona Estherina berkontribusi dalam penulisan artikel ini.