Nilai tukar rupiah mengalami koreksi sebesar 0,11 persen dan ditutup pada level Rp17.122 per dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan pasar spot pada Selasa sore (14/4/2026). Penurunan ini menandai pelemahan selama empat hari berturut-turut di tengah penguatan mayoritas mata uang lainnya di kawasan Asia.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, mata uang Garuda kini menjadi yang terlemah di Asia meski indeks dolar AS sebenarnya mengalami penurunan 0,16 persen ke posisi 98,2. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan domestik jauh lebih dominan memengaruhi nilai tukar dibandingkan faktor eksternal global.
Meningkatnya permintaan dolar AS dari dalam negeri menjadi pemicu utama tekanan likuiditas di pasar valas. Kebutuhan tersebut didorong oleh periode musiman repatriasi dividen oleh perusahaan-perusahaan serta tingginya keperluan untuk pembayaran kegiatan impor.
Landasan eksternal ekonomi Indonesia saat ini dinilai berada dalam kondisi yang rapuh sehingga dampak repatriasi dividen sangat terasa bagi stabilitas mata uang. Penurunan cadangan devisa pada Maret lalu turut memberikan sinyal bahwa bantalan stabilitas nasional mulai menipis.
Tekanan inflasi juga memberikan beban tambahan terhadap pergerakan rupiah melalui mekanisme inflasi impor akibat gangguan pasokan dan perang. Kenaikan harga bahan baku kemasan telah memaksa produsen makanan dan minuman meningkatkan biaya produksi yang diprediksi akan berdampak pada inflasi April.
Kondisi fiskal pemerintah ikut menjadi perhatian pasar seiring dengan besarnya kebutuhan anggaran untuk kebijakan program-program prioritas. Agenda tersebut membutuhkan ruang fiskal yang signifikan di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global.
Selain itu, potensi membengkaknya anggaran subsidi energi akibat kenaikan harga minyak dunia masih terus membayangi stabilitas nilai tukar. Kombinasi tekanan fiskal, tingginya permintaan dolar, dan terbatasnya ruang manuver otoritas moneter membuat posisi rupiah kian rentan.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·