Rupiah Melemah ke Rp 17.143 Picu Risiko Inflasi Barang Impor

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup merosot ke level Rp 17.143 per dollar AS pada perdagangan Rabu (15/4/2026) akibat tekanan geopolitik global. Pelemahan sebesar 16 poin atau 0,09 persen ini memicu kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi pada harga barang kebutuhan pokok masyarakat.

Kenaikan biaya impor bahan baku menjadi ancaman nyata bagi stabilitas harga di tingkat konsumen, sebagaimana dilansir dari Money. Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa komoditas seperti plastik, pupuk, hingga bahan pangan hewani mulai menunjukkan tekanan harga yang signifikan.

"Apa yang perlu diwaspadai dalam pelemahan mata uang rupiah? Kita harus mewaspadai. Pada saat pelemahan mata uang rupiah pasti berdampak terhadap barang-barang impor. Kita lihat yang pertama adalah plastik, yang sudah begitu mahal harganya," ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Selain plastik, sektor agrikultur seperti kedelai dan jagung yang menjadi bahan baku pakan ternak juga berisiko naik. Kondisi ini diprediksi akan berdampak lanjutan pada harga daging, produk olahan, barang elektronik, hingga makanan siap saji yang bergantung pada komponen luar negeri.

Di sisi lain, pelemahan mata uang Garuda memberikan keuntungan bagi eksportir di sektor komoditas. Pengusaha timah, nikel, dan crude palm oil (CPO) mendapatkan pendapatan lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah karena transaksi berbasis dollar AS.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara, menyarankan pemerintah untuk memprioritaskan pengendalian inflasi yang dipicu kenaikan biaya produksi. Ia mengusulkan evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar tidak memperparah tekanan inflasi pangan nasional.

Langkah konkret lain yang diusulkan adalah penurunan tarif PPN menjadi 9 persen serta pemberian Bantuan Subsidi Upah (BSU) selama enam bulan. Kebijakan ini dinilai perlu untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah risiko krisis ekonomi yang meningkat.

Faktor eksternal utama pelemahan ini adalah blokade laut Amerika Serikat terhadap Iran yang mengganggu Selat Hormuz sebagai jalur vital energi dunia. Ketegangan di Timur Tengah tersebut membuat International Monetary Fund (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 5 persen.

Untuk perdagangan selanjutnya, nilai tukar rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Mata uang domestik diperkirakan berada dalam rentang Rp 17.140 hingga Rp 17.180 per dollar AS akibat sentimen pasar global yang belum stabil.