Rupiah Melemah ke Rp17.130 per Dolar AS pada Selasa 14 April 2026

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan sebesar 25 poin atau 0,15 persen ke level Rp17.130 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa (14/4/2026) pagi. Penurunan ini dipicu oleh lemahnya sentimen domestik serta kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal nasional.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda diperburuk oleh lonjakan defisit APBN per Maret 2026 yang mencapai Rp240,1 triliun. Angka tersebut menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 140 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Data Refinitiv mencatat rupiah sempat menyentuh angka Rp17.110 per dolar AS sebelum melemah lebih dalam. Posisi ini melanjutkan tren negatif dari penutupan Senin (13/4/2026) di level Rp17.095, di mana mata uang Indonesia telah tertahan di atas level Rp17.000 sejak awal April 2026.

Meskipun nilai nominal rupiah saat ini melampaui titik terendah krisis moneter 1998 yang berada di angka Rp16.800, Direktur Eksekutif CORE, Mohammad Faisal, menilai kondisi fundamental ekonomi saat ini jauh lebih kokoh. Sektor riil dan ketahanan fiskal dinilai memiliki daya tahan yang lebih baik dibandingkan periode krisis masa lalu.

"Sektor keuangan saat ini jauh lebih baik, jadi daya tahan dan antisipasi lebih baik untuk sekarang," kata Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE). Ia menambahkan bahwa pertumbuhan penjualan ritel dalam tiga bulan pertama 2026 menjadi indikator kekuatan konsumsi domestik.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan bahwa bank sentral telah menyiapkan mekanisme perlindungan berlapis atau layer of defense. Bank Indonesia (BI) mengoptimalkan cadangan devisa sebesar 148,2 miliar dolar AS dan skema kerja sama swap bilateral dengan negara-negara mitra untuk menjaga stabilitas pasar.

Bank Indonesia juga mendorong para pengusaha untuk memanfaatkan instrumen lindung nilai (hedging) guna memitigasi risiko volatilitas kurs di pasar spot. Sementara itu, sektor perbankan nasional tercatat memiliki rasio kecukupan modal (CAR) di level 25,83 persen, yang diklaim sebagai salah satu yang tertinggi secara global.

Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari Bank Dunia mengalami revisi turun dari 4,8 persen menjadi 4,7 persen. Meski demikian, potensi penguatan rupiah masih terbuka seiring adanya perundingan damai global dan penurunan harga minyak dunia ke bawah level 100 dolar AS per barel.