Rupiah Melemah ke Rp17.295 Per Dolar AS Akibat Lonjakan Harga Minyak

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,7 persen ke level Rp17.295 per dolar AS pada perdagangan Kamis (23/4/2026) akibat tekanan faktor domestik dan penguatan indeks dolar AS ke posisi 98,68. Dilansir dari Bloombergtechnoz, pergerakan mata uang Garuda ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah Brent yang mencapai US$102,9 per barel.

Kenaikan harga minyak dunia sebesar 0,97 persen tersebut didorong oleh ketidakpastian konflik bersenjata yang belum mereda. Kondisi ini menyebabkan mayoritas mata uang di pasar Asia mengalami pelemahan serentak, dengan pengecualian pada dolar Hong Kong yang tercatat mampu bergerak defensif.

Data menunjukkan sepanjang April 2026, rupiah telah mengalami depresiasi sebesar 1,73 persen dan menempati posisi mata uang terlemah di kawasan regional. Padahal, sebagian besar mata uang negara tetangga mulai menunjukkan tren penguatan kembali atau rebound di tengah fluktuasi pasar global.

Lonjakan harga minyak di atas US$100 per barel melampaui asumsi APBN 2026 yang ditetapkan sebesar US$70 per barel. Situasi ini diperkirakan bakal menambah beban subsidi dan kompensasi energi antara Rp10 triliun hingga Rp13 triliun per tahun untuk setiap kenaikan US$1 pada harga minyak mentah.

Lembaga pemeringkat S\&P Global Ratings menilai ketahanan fiskal Indonesia menjadi yang paling rentan jika eskalasi perang terus berlanjut. Sementara itu, Moody's dan Fitch Ratings turut menyoroti ketidakpastian kebijakan serta lemahnya konsistensi bauran kebijakan ekonomi yang berdampak pada kredibilitas pasar domestik.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, memberikan penjelasan mengenai tantangan ekonomi global saat ini dalam paparan setelah Rapat Dewan Gubernur kemarin. Menurutnya, tensi geopolitik di Timur Tengah masih menjadi hambatan bagi pertumbuhan ekonomi dan membatasi opsi kebijakan moneter.

"Terkait dengan penguatan untuk operasi moneter kami melalui intervensi penguatan khususnya untuk yang NDF di offshore market, akan ada pengecualian bagi bank khususnya untuk dealer utama, sehingga mereka bisa menjual NDF secara langsung," ujar Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI).

Pihak otoritas moneter kini semakin mengandalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menyerap likuiditas dan menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah ini dilakukan di tengah kondisi kurs spot sejumlah bank swasta nasional yang sudah menyentuh angka Rp17.400 hingga Rp17.580 per dolar AS.