Rupiah Melemah ke Rp17.500 per Dolar AS Cetak Rekor Terendah

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat merosot sebesar 0,51 persen dan ditutup pada level Rp17.500 pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Angka penutupan ini merupakan posisi terlemah sepanjang sejarah sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz.

Mata uang Garuda sempat menyentuh angka Rp17.511 per dolar AS pada sesi perdagangan siang hari. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi tekanan sentimen domestik serta faktor eksternal yang memengaruhi pasar negara berkembang secara luas.

Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah setelah kegagalan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran menjadi penyebab utama tingginya harga minyak dunia di atas US$100 per barel. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap lonjakan inflasi global.

Faktor eksternal lainnya adalah penguatan indeks dolar AS ke atas level 98 dan kenaikan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun. Hal ini mendorong aliran modal asing keluar dari negara berkembang menuju instrumen yang dianggap lebih aman.

Dari sisi domestik, pasar menyoroti ketidakpastian kebijakan terkait penundaan pengenaan royalti hasil tambang yang berisiko mengurangi pendapatan negara. Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, memberikan pandangannya terhadap situasi fiskal saat ini.

"Ketidakpastian revisi tarif minerba dapat berdampak negatif terhadap risiko melebarnya defisit fiskal pemerintah tahun ini yang tertekan oleh efek perang Iran," sebut Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas.

Analis tersebut juga memperkirakan adanya risiko penurunan nilai tukar lebih lanjut jika tekanan pasar terus berlanjut. Pergerakan rupiah diproyeksikan masih akan bergejolak dalam waktu dekat.

"Ketidakpastian revisi tarif minerba dapat berdampak negatif terhadap risiko melebarnya defisit fiskal pemerintah tahun ini yang tertekan oleh efek perang Iran," sebut Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas.

Kebutuhan repatriasi dividen investor asing pada kuartal kedua turut memperparah tekanan terhadap nilai tukar. Estimasi menunjukkan potensi repatriasi mencapai Rp75,3 triliun untuk periode April hingga Juli 2026, dengan puncak Rp34,2 triliun terjadi pada Mei.

Bank Indonesia telah berupaya melakukan intervensi agresif melalui penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Meskipun kepemilikan asing di SRBI naik menjadi Rp192,17 triliun pada April, dampak intervensi tersebut dinilai belum cukup kuat menahan arus keluar devisa di pasar saham.