Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada pembukaan perdagangan pasar spot. Pergerakan mata uang Garuda ini berbanding terbalik dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang justru menguat, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Rupiah mencatatkan pelemahan tipis sebesar 0,01 persen ke posisi Rp17.710/US$ saat perdagangan dibuka pada Senin (25/5/2026). Tidak lama kemudian, mata uang Indonesia tersebut kembali merosot sebesar 0,14 persen ke level Rp17.733/US$ pada pukul 09:15 WIB.
Kondisi ini terjadi ketika indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia masih bertahan di level tinggi, yakni pada posisi 99. Di sisi lain, harga minyak mentah dunia mulai bergerak lebih stabil dan berada di level US$98 per barel.
Kabar mengenai kesepakatan damai antara AS dan Iran menjadi pendorong utama menguatnya mata uang di kawasan Asia. Mayoritas mata uang regional bergerak di zona hijau, kecuali rupiah, won Korea Selatan, dan rupee India yang tetap menghadapi tekanan.
Faktor internal disinyalir menjadi pemicu utama tekanan terhadap pergerakan rupiah. Para pelaku pasar saat ini tengah mencermati arah kebijakan fiskal pemerintah Indonesia, terutama terkait pembiayaan program prioritas yang membutuhkan anggaran dalam jumlah besar.
Tekanan Struktural Neraca Pembayaran
Rupiah juga mengalami tekanan struktural yang bersumber dari data defisit neraca pembayaran nasional. Bank Indonesia (BI) mengumumkan bahwa neraca pembayaran pada kuartal I-2026 mengalami defisit sebesar US$9,15 miliar, membengkak dari kuartal sebelumnya yang sebesar US$6,07 miliar.
Kenaikan defisit juga terjadi pada sektor jasa yang meningkat menjadi US$4,6 miliar dari nilai sebelumnya sebesar US$3,5 miliar. Sementara itu, defisit pada pendapatan primer masih tertahan di angka yang cukup besar, yaitu senilai US$9,2 miliar.
Penurunan kinerja juga terlihat pada surplus perdagangan barang yang menyusut menjadi US$8 miliar dari posisi sebelumnya sebesar US$10,2 mliar. Situasi ini diperkirakan menghambat ruang penguatan rupiah, dengan potensi depresiasi lanjutan pada rentang Rp17.750/US$ hingga Rp17.850/US$.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·