Rupiah Melemah Tekan Harga Bahan Baku Tahu dan Tempe Nasional

Sedang Trending 55 menit yang lalu

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS hingga menyentuh angka Rp 17.601 pada Jumat (15/5/2026) siang berpotensi memicu lonjakan harga tahu dan tempe di pasar domestik. Kondisi ini terjadi karena Indonesia sangat bergantung pada impor kedelai asal Amerika Serikat untuk memenuhi kebutuhan bahan baku nasional.

Berdasarkan data nilai tukar pukul 12.00 WIB, rupiah tercatat melemah 70 poin atau sekitar 0,40 persen, sebagaimana dilansir dari Money. Ketergantungan ini sangat krusial mengingat kedelai mencakup 60 hingga 70 persen dari total komponen biaya produksi industri tahu dan tempe.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M. Rizal Taufikurahman, menyebutkan bahwa konsumsi kedelai nasional mencapai 2,6 hingga 2,7 juta ton per tahun. Namun, kemampuan produksi lokal hanya berkisar di angka 200.000 sampai 300.000 ton.

“Artinya lebih dari 85 persen dipenuhi impor. Dengan struktur seperti ini, setiap depresiasi rupiah misalnya bergerak di kisaran Rp 17.000 per dollar AS langsung meningkatkan biaya bahan baku di dalam negeri tanpa ada buffer produksi domestik,” kata M. Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF.

Tekanan bagi perajin tidak hanya datang dari kenaikan harga kedelai, tetapi juga harga plastik kemasan yang terdampak kenaikan harga minyak mentah global. Plastik berbasis resin diketahui ikut merangkak naik seiring harga Indonesian Crude Price (ICP) yang melampaui 100 dollar AS per barel.

“Plastik berbasis resin yang diturunkan dari minyak mengalami kenaikan harga seiring Indonesian Crude Price (ICP) yang sudah menembus di atas 100 dollar AS per barrel,” ujar M. Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF.

Di tingkat lapangan, para produsen mulai mengambil langkah darurat untuk menjaga kelangsungan usaha. Hadi Prayitno, seorang perajin di Ponorogo, mengaku terpaksa mengubah dimensi produknya akibat harga bahan baku yang tidak stabil selama satu bulan terakhir.

“Ini berdampak langsung ke biaya kemasan tempe, yang selama ini sering dianggap komponen kecil tetapi dalam agregat cukup signifikan bagi UMKM,” kata Hadi Prayitno, pengrajin tempe.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor kedelai pada 2025 mencapai 2,56 juta ton dengan 90 persen di antaranya berasal dari Amerika Serikat. Sementara itu, produksi lokal diprediksi terus menurun hingga menjadi 320.000 ton pada 2026 karena banyak petani beralih menanam padi atau jagung.

Guna menjaga stabilitas stok, Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) mendukung penguatan kerja sama dagang dengan Amerika Serikat melalui Agreement on Reciprocal Trade (ART). Kesepakatan ini mencakup komitmen pasokan kedelai sebanyak 3,5 juta ton per tahun untuk periode lima tahun ke depan.

“Komitmen pembelian kedelai merupakan bagian dari upaya untuk menjamin kepastian pasokan kedelai nasional dan menjaga kelancaran distribusinya,” ujar Hidayatullah Suralaga, Ketua Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo).

Kepastian pasokan tersebut dinilai krusial agar pelaku UMKM memiliki ruang untuk meningkatkan kapasitas produksi dan daya saing. Hidayatullah menambahkan bahwa jaminan stok dapat memperkuat ekosistem industri olahan kedelai dari hulu hingga ke hilir.

“Komitmen ini dapat memperkuat ekosistem industri kedelai nasional. Dengan pasokan yang lebih terjamin, pelaku usaha memiliki kepastian untuk berinvestasi, meningkatkan kapasitas produksi, dan menciptakan lapangan pekerjaan,” kata Hidayatullah Suralaga, Ketua Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo).

Hingga saat ini, perajin di pasar domestik masih memantau pergerakan harga distributor untuk menentukan apakah akan menaikkan harga jual atau tetap mengecilkan ukuran produk guna menutupi membengkaknya biaya produksi.