Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat 0,27 persen ke level Rp17.342 pada perdagangan Kamis, 7 Mei 2026. Apresiasi mata uang garuda ini terjadi seiring dengan pelemahan indeks dolar AS dan penurunan harga minyak mentah dunia.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, pelemahan indeks dolar tercatat sebesar 0,11 persen ke level 97,91, sementara harga minyak mentah anjlok 2,18 persen ke posisi US$99 per barel. Kondisi tersebut memicu penguatan mayoritas mata uang di kawasan Asia, dengan peso Filipina memimpin penguatan disusul rupee India, ringgit Malaysia, dan baht Thailand.
Penguatan mata uang regional juga didorong oleh reli yuan offshore yang menembus level terkuatnya sejak Februari 2023. Pergerakan positif ini dipicu oleh penetapan kurs referensi yang lebih kuat oleh People’s Bank of China (PBOC) serta optimisme terhadap potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Strategist Maybank Fiona Lim menilai pergerakan mata uang China tersebut tidak menunjukkan adanya target level tertentu dari otoritas moneter setempat. Penurunan tren dolar diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa waktu mendatang.
"Saya tidak melihat PBOC ingin mempertahankan yuan di level tertentu, khususnya terhadap dolar AS. Tren dolar masih cenderung bearish untuk beberapa kuartal ke depan dan kami masih memperkirakan USD/CNY bergerak di bawah level 6,80" ujar Fiona Lim, strategist Maybank.
Analis valuta asing Chunyu Zhang mencatat bahwa meskipun kinerja imbal hasil rupiah sempat melemah sepanjang April, namun minat kepemilikan terhadap aset rupiah tetap tinggi. Data Bloomberg Intelligence menunjukkan skor positioning valuta asing rupiah menjadi yang tertinggi di kawasan emerging market Asia.
Kondisi di pasar valas ini turut memberikan dampak positif pada pasar Surat Utang Negara (SUN) domestik. Imbal hasil seluruh tenor tercatat turun, termasuk tenor acuan 10 tahun yang merosot 9,8 bps ke level 6,63 persen seiring masuknya aliran modal asing.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·