Rupiah NDF Melemah ke Rp17.323 per Dolar AS pada 7 Mei 2026

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Nilai tukar rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) mengalami koreksi tipis setelah sempat mencatatkan penguatan pada perdagangan sebelumnya. Dilansir dari Bloombergtechnoz, mata uang Garuda di pasar offshore pagi ini masih bertahan di bawah level psikologis Rp17.400 per dolar AS.

Pada perdagangan Kamis (7/5/2026) pagi, rupiah offshore dipatok pada level Rp17.323 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 0,02 persen dibandingkan posisi sebelumnya.

Penurunan ini terjadi di tengah meredanya sentimen positif di kawasan Asia serta melonjaknya harga minyak mentah Brent. Tercatat, harga minyak Brent naik 1,12 persen menjadi US$102,4 per barel.

Tren pelemahan tidak hanya melanda rupiah, tetapi juga beberapa mata uang utama di kawasan Asia lainnya. Won Korea Selatan tercatat melemah terbatas sebesar 0,06 persen.

Kondisi serupa diikuti oleh ringgit Malaysia yang terkoreksi 0,05 persen dan yen Jepang yang turun tipis 0,01 persen. Sebaliknya, dolar Hong Kong justru menguat 0,02 persen, disusul yuan offshore 0,01 persen, dan dolar Singapura 0,02 persen.

Pelaku pasar saat ini cenderung mengambil sikap menunggu (wait and see) terkait perkembangan geopolitik global. Amerika Serikat dan Iran dikabarkan tengah mempertimbangkan proposal baru untuk mengakhiri konflik melalui pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap.

Pertemuan ASEAN di Filipina

Dari sisi domestik dan regional, fokus beralih pada agenda para menteri luar negeri ASEAN yang berkumpul di Cebu, Filipina. Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, dijadwalkan hadir untuk membahas tantangan ekonomi dalam KTT Asia Tenggara besok.

Presiden Prabowo rencananya akan menyoroti dua isu strategis, yakni ketahanan pangan dan sektor energi. Komoditas nikel diprediksi menjadi salah satu topik bahasan utama dalam forum tersebut.

Rangkaian pertemuan tingkat menteri pada 7 Mei ini mencakup Dewan Komunitas Politik-Keamanan ASEAN hingga pertemuan gabungan menteri luar negeri dan ekonomi. Agenda ini menjadi krusial di tengah tekanan inflasi yang melanda kawasan sepanjang April lalu.

Imbal Hasil Surat Utang

Di pasar surat utang, terjadi aksi beli masif yang mendorong penurunan imbal hasil (yield) pada hampir semua tenor. Data per pukul 07:50 WIB menunjukkan yield tenor 4 tahun turun 2,3 bps ke level 6,69 persen.

Tenor 2 tahun juga mengalami penurunan imbal hasil sebesar 1,2 bps menjadi 6,33 persen. Sementara itu, untuk tenor acuan 10 tahun, yield tercatat turun 0,4 bps ke posisi 6,73 persen.

Namun, tekanan jual masih membayangi tenor 1 tahun dengan imbal hasil mencapai 6,43 persen, yang merupakan level tertinggi sejak Maret 2025. Hal ini dipicu oleh kenaikan yield instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang menyentuh 6,5 persen.

Analisis Teknikal Rupiah

Berdasarkan analisis teknikal, mata uang rupiah masih memiliki peluang untuk melanjutkan tren pemulihan pada perdagangan hari ini. Terdapat potensi penguatan menuju level resistance Rp17.350 per dolar AS.

Target optimistis berikutnya berada pada level Rp17.300 per dolar AS. Jika momentum penguatan terus berlanjut hingga Rp17.200, maka rupiah berpeluang besar menembus target jangka panjang di angka Rp17.000 per dolar AS.

Di sisi lain, level support psikologis saat ini berada di angka Rp17.400 per dolar AS. Apabila batas bawah ini terlampaui, rupiah kemungkinan besar akan mengonfirmasi laju pelemahan menuju level Rp17.500 per dolar AS.