Rupiah sentuh Rp17.304 per dolar AS, faktor eksternal jadi sebab utama

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah pada Kamis siang melemah 123 poin atau 0,72 persen menjadi Rp17.304 per dolar AS pada pukul 13.32 WIB dari penutupan sebelumnya di level Rp17.181 per dolar AS.

Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan yang cukup signifikan ini disebabkan gagalnya perundingan antara AS dengan Iran.

“Salah satu penyebabnya, pertama adalah masalah eksternal, dimana pertemuan di minggu ini antara AS dan Iran yang difasilitasi Pakistan gagal. Iran tidak ikut dalam perundingan tersebut karena AS sudah menyalahi aturan dalam gencatan senjata dengan melakukan penangkapan terhadap kapal tanker Iran yang melewati Selat Hormuz,” ucapnya dalam rekaman suara di Jakarta, Kamis.

Di sisi lain, Iran disebut siap untuk melakukan perang berkepanjangan dengan AS karena Negeri Mullah tersebut tak lagi percaya dengan Negeri Paman Sam.

Baca juga: Menko Airlangga: Rupiah melemah karena gejolak global

Dalam konteks tersebut, AS memutuskan untuk melakukan gencatan sepihak, seiring mendorong kesepakatan yang diinginkan Amerika agar Selat Hormuz tak boleh dikenakan tarif oleh Iran, dan pengayaan uranium agar dihentikan dan diambilalih untuk disimpan di Amerika.

Kedua syarat yang diminta AS inilah yang membuat Iran tak bisa menerima karena dianggap telah melanggar hak kedaulatan Iran untuk mengelola Selat Hormuz tanpa adanya intervensi.

Melihat dari segi internal, kenaikan harga minyak Brent yang saat ini menyentuh 103 dolar AS per barel dan harga West Texas Intermediate (WTI) sebesar 98 dolar AS per barel, membuat defisit anggaran Indonesia kemungkinan besar akan melebar.

Selain itu, masalah lainnya ialah kapal tanker Pertamina yang belum bisa keluar dari Selat Hormuz akibat gejolak konflik di kawasan Asia Barat.

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.