Rupiah Tembus Rp 17.575 per Dolar AS Lampaui Target APBN 2026

Sedang Trending 51 menit yang lalu

Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan tajam terhadap dolar Amerika Serikat hingga menyentuh level Rp 17.575 pada Jumat (15/5/2026) pagi. Dilansir dari Detik Finance melalui data Bloomberg, pelemahan signifikan ini telah melampaui batas atas asumsi makro APBN 2026 yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 16.500 per dolar AS.

Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad memprediksi mata uang garuda akan sulit kembali ke bawah level Rp 17.000 dalam waktu dekat. Fenomena lonjakan ini dinilai telah membentuk titik keseimbangan baru bagi nilai tukar domestik.

"Saya melihat memang kalau di bawah Rp 17.000 rasanya sudah sulit ya. Ini ada angka kesimbangan baru begitu ya. Ada angka kesimbangan baru Rp 17.000 ya," ujar Tauhid, Ekonom Senior INDEF.

Ia menambahkan bahwa upaya Bank Indonesia dalam melakukan stabilisasi moneter biasanya membutuhkan waktu lama hanya untuk menguatkan rupiah sebesar Rp 500. Tauhid memperkirakan penguatan maksimal hanya akan berada pada rentang Rp 17.000 hingga Rp 17.200.

"Tapi saya yakin ya masih bisa mendekati angka Rp17.000 itu memungkinkan apakah Rp17.100 atau Rp17.200 begitu. Tapi ini lagi-lagi butuh dukungan, 7 langkah yang dilakukan Bank Sentral itu harus benar-benar efektif," papar Tauhid, Ekonom Senior INDEF.

Kesenjangan antara realitas pasar dan target pemerintah memicu usulan agar otoritas terkait segera melakukan revisi terhadap asumsi makro dalam anggaran negara. Transparansi kerangka fiskal sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas kepercayaan para penanam modal di tanah air.

"Paling tidak pemerintah menyampaikan kerangka fiskal sampai akhir tahun, sehingga para investor, pelaku bisnis dan sebagainya bisa membaca arah penjelasan fiskal dan lebih yakin ya," beber Tauhid, Ekonom Senior INDEF.

Sementara itu, Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menyoroti faktor eksternal sebagai pemicu utama keguncangan kurs, terutama konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran. Perang tersebut berdampak langsung pada kenaikan harga minyak dunia akibat gangguan pasokan energi.

"Semua bisa terjadi (penguatan signifikan Rupiah terhadap Dolar AS) apabila perang Iran-AS berakhir atau selat Hormuz dibuka dan harga minyak turun kembali ke level semula," beber Lukman, Analis Doo Financial Futures.

Kondisi internal juga memperparah keadaan dengan defisit anggaran yang mendekati angka 3 persen dan ketidakpastian di pasar modal. Lukman menyarankan agar pemerintah segera memangkas belanja yang bersifat non-esensial dan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan.

"Pemerintah perlu mengurangi anggaran non-esensial dan BI perlu menaikkan suku bunga," tegas Lukman, Analis Doo Financial Futures.

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menekankan pentingnya peran Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) dalam menjaga sentimen pasar agar tidak terjadi kepanikan massal. Menurutnya, koordinasi komunikasi antarlembaga menjadi kunci utama dalam meredam tekanan terhadap rupiah.

"Tapi yang paling penting sebenarnya bukan sekadar intervensi, melainkan menjaga kepercayaan pasar. Investor ingin melihat pemerintah, BI, dan otoritas keuangan bicara dalam arah yang sama. Kalau komunikasinya terlihat tidak sinkron atau kebijakannya berubah-ubah, tekanan ke rupiah biasanya cepat membesar," tegas Rendy, Ekonom CORE Indonesia.

Rendy juga menyoroti kerentanan struktur ekonomi nasional yang masih sangat bergantung pada impor bahan baku dan energi. Transformasi industri dalam negeri pada sektor kimia dan farmasi dinilai mendesak untuk mengurangi ketergantungan pada modal asing.

"Karena itu pemerintah perlu serius memperkuat industri dalam negeri, terutama sektor-sektor yang selama ini membuat impor kita besar, seperti farmasi, kimia dasar, dan komponen industri," papar Rendy, Ekonom CORE Indonesia.