Warga Australia keturunan Yahudi menyatakan di hadapan komisi penyelidikan antisemitisme pada Senin, 4 Mei 2026, bahwa mereka tidak lagi merasa aman akibat meningkatnya kebencian pasca-penembakan massal di Pantai Bondi. Tragedi tersebut sebelumnya mengakibatkan 15 orang tewas dan 40 lainnya luka-luka.
Sheina Gutnick, putri dari korban tewas Reuven Morrison, memberikan kesaksian pada hari pertama fase kedua komisi yang dimulai sejak 24 Februari. Ia menyebutkan adanya ancaman yang terus muncul serta peringatan dari komunitas yang selama ini diabaikan oleh pihak berwenang.
Gutnick menceritakan bahwa orang tuanya merupakan pengungsi yang bertemu dan menikah di Pantai Bondi. Namun, lokasi yang menyimpan kenangan masa kecil yang indah itu kini dirasakan menjadi beban yang sangat berat bagi hati komunitas mereka menurut laporan upi.com.
"He was deeply proud to have moved to Australia and been an Australian citizen, and grateful for a nation that welcomed Jews when so many others turned them away at that time," kata Gutnick, saksi.
Ayah Gutnick, Morrison yang berusia 62 tahun, tewas ditembak saat mencoba melawan Sajid Akram dan putranya, Naveed Akram, menggunakan batu bata. Serangan tersebut terjadi saat perayaan Hanukkah pada 14 Desember lalu di Sydney.
Gutnick mengungkapkan bahwa dirinya menerima ratusan pesan daring yang menyatakan bahwa ia seharusnya ikut tewas bersama ayahnya. Beberapa pesan bahkan menuduh bahwa serangan mematikan tersebut hanyalah rekayasa semata.
"I saw people trying to excuse and justify the events as only anti-Zionist. I felt as though anti-Semitism was allowed to come into the open. All of a sudden it was socially, morally acceptable for anti-Semitic comments to be made in public discourse," ujar Gutnick, saksi.
Penyintas Holocaust, Peter Halasz, turut memberikan kesaksian mengenai pengalamannya saat ibunya dieksekusi oleh Nazi di Hongaria pada tahun 1944. Ia menegaskan bahwa kebencian yang terjadi di Australia saat ini merupakan tanda bahaya yang sangat nyata.
"I lived through what hatred can do to people. What is happening in Australia today is not a faint echo of a distant past [but] something recognized and cause for alarm," tutur Halasz, saksi.
Setelah melarikan diri dari Hongaria yang saat itu dikuasai Soviet, Halasz tidak pernah membayangkan akan merasa takut mengenakan simbol Bintang Daud di depan umum. Ia menilai komunitas Yahudi di Australia kini telah menjadi target kebencian.
"Jews in Australia have become targets," tambah Halasz, saksi.
Seorang saksi anonim dengan inisial AAL melaporkan insiden di sekolah negeri cucunya di mana seorang guru pengganti melakukan hormat Nazi berulang kali. Guru tersebut dilaporkan tidak mendapatkan sanksi disiplin atau pemecatan setelah kejadian tersebut.
"I have to think very, very seriously if this is the country for my grandchildren unless the root cause of anti-Semitism is stamped out," kata AAL, saksi.
Beberapa saksi lain menekankan bahwa situasi mulai memburuk sejak akhir tahun 2023. Zelie Heger SC, konsul untuk Komisioner Virginia Bell, mengidentifikasi periode tersebut sebagai titik balik yang signifikan bagi peningkatan sentimen antisemitisme.
Bentuk diskriminasi yang umum ditemukan meliputi doxxing, vandalisme grafiti, hingga kerusakan sengaja pada sinagoge. Seorang warga asal Inggris di Melbourne bahkan menyatakan keluarganya memilih pindah ke Israel karena merasa zona perang lebih aman daripada Australia saat ini.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·