Sapi kurban presiden untuk warga Pulau Terluar Indonesia

Sedang Trending 56 menit yang lalu
Sapi.itu bukan sekadar hewan kurban, tapi adalah tanda bahwa negara masih mengingat mereka.

Natuna (ANTARA) - Rabu (20/5) Pagi itu, laut Natuna belum benar-benar tenang ketika seekor sapi limosin berbobot hampir 900 kilogram berdiri di atas pompong kayu (kapal tradisional yang terbuat dari bahan kayu) di Pelabuhan Teluk Buton.

Ombak kecil memukul lambung kapal berulang-ulang, sementara sejumlah petugas berdiri siaga di sekeliling hewan besar itu.

Di kejauhan, langit tampak cerah. Namun bagi mereka yang berada di pelabuhan, perjalanan menuju Pulau Laut tetap menyimpan kecemasan.

“Jangan terlalu dekat,” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Natuna, Wan Syazali, kepada warga dan penumpang yang mulai berkerumun.

Instruksi itu terdengar sederhana, tetapi penting. Sedikit kepanikan saja bisa membuat sapi salah melompat. Jika itu terjadi di tengah dermaga kayu yang sempit, risikonya bukan hanya hewan tersebut stres, tetapi juga bisa tercebur ke laut.

Begitulah pagi itu dimulai di Natuna. Hari ketika seekor sapi kurban bantuan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, diberangkatkan menuju Pulau Laut, sebuah pulau kecil di ujung utara Indonesia yang selama ini lebih akrab dengan sunyi, ombak, dan jarak yang panjang dari pusat kekuasaan.

Bagi sebagian orang di kota besar, sapi kurban presiden mungkin hanya berita seremonial tahunan. Namun bagi masyarakat Pulau Laut, kedatangan sapi itu memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Sapi.itu bukan sekadar hewan kurban, tapi adalah tanda bahwa negara masih mengingat mereka.

Kabar tentang bantuan sapi presiden sebenarnya sudah lebih dulu menyebar dari mulut ke mulut. Dari warung kopi hingga pelantar rumah warga, orang-orang mulai membicarakan satu hal yang sama: Pulau Laut akhirnya mendapat sapi kurban presiden untuk pertama kalinya.

Di pulau perbatasan seperti itu, kabar kecil bisa menjadi peristiwa besar.

Sapi tersebut dibeli dari seorang peternak lokal di Kecamatan Bunguran Timur bernama Mondosia. Di kandang sederhana miliknya yang berada cukup jauh dari permukiman warga, pria itu merawat sapi-sapinya dengan cara yang nyaris tidak berubah selama bertahun-tahun.

Pagi hari sapi dilepas ke area terbuka. Sore hari baru dimasukkan kembali ke kandang.

Menurut Mondosia, sapi juga punya suasana hati.

“Sapi yang terlalu lama di kandang gampang stres,” katanya suatu ketika sambil memperhatikan ternaknya.

Karena itulah ia membiarkan hewan-hewan peliharaannya bergerak bebas sejak pagi hingga petang. Cara sederhana itu ternyata membuat ternaknya tumbuh sehat dan berbobot besar.

Sapi jantan miliknya bahkan sering dipinjam peternak lain untuk mengawini sapi betina mereka.

“Tempat mereka kawin sudah saya siapkan,” ujarnya sambil menunjuk kandang kecil di samping area utama peternakan.

Tak banyak yang menyangka, dari kandang sederhana di Natuna itulah lahir sapi yang kemudian menempuh perjalanan panjang menuju pulau terluar Indonesia.

Menjelang keberangkatan, suasana pelabuhan perlahan berubah tegang. Petugas mulai mengatur posisi warga, memastikan jalur pemindahan sapi tetap aman.

Ketika tubuh besar sapi itu akhirnya bergerak naik ke pompong, semua mata tertuju ke satu arah. Beberapa orang menahan napas.

Kayu kapal berderit pelan saat menahan bobot 879 kilogram itu. Ombak kecil membuat kapal bergoyang sebelum perlahan menjauh dari dermaga.

Baca juga: Pemkab Natuna distribusikan sapi kurban presiden ke Pulau Terluar

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.