Peringatan Hari Keluarga Internasional atau International Day of Families rutin dirayakan setiap tahun pada bulan Mei. Untuk tahun 2026, momentum penting ini jatuh pada tanggal 15 Mei.
Seperti dilansir dari Detikcom, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mulai memberikan perhatian khusus pada isu keluarga sejak dekade 1980-an. Langkah ini diawali dengan rekomendasi Dewan Ekonomi dan Sosial pada tahun 1983.
Komisi Pembangunan Sosial melalui resolusi 1983/23 kemudian mendorong Sekretaris Jenderal PBB untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Fokus utamanya adalah kebutuhan keluarga serta langkah efektif bagi para pembuat keputusan untuk memenuhinya.
Majelis Umum PBB memproklamasikan Tahun Internasional Keluarga melalui resolusi 44/82 yang diterbitkan pada 9 Desember 1989. Hal ini menjadi tonggak awal penguatan peran keluarga dalam pembangunan global.
Baru pada tahun 1993, muncul resolusi resmi (A/RES/47/237) yang menetapkan tanggal 15 Mei sebagai Hari Keluarga Internasional. Peringatan ini menjadi wadah untuk mengedukasi publik mengenai proses sosial, ekonomi, dan demografi.
Momentum tahunan tersebut dimanfaatkan untuk mendalami berbagai isu yang secara langsung berdampak pada kehidupan keluarga di seluruh dunia. Fokus utama tetap pada penguatan ketahanan keluarga di tengah dinamika global.
Tema Hari Keluarga Internasional 2026
Peringatan Hari Keluarga Internasional 2026 mengusung tema "Families, Inequalities and Child Wellbeing". Fokus ini menyoroti bagaimana kesenjangan yang kian lebar memengaruhi masa depan dan perkembangan anak-anak.
Kesenjangan pendapatan, akses kesehatan, hingga fasilitas pendidikan menjadi poin krusial dalam tema tahun ini. PBB menyerukan perlunya investasi kuat dalam kebijakan terpadu yang berorientasi pada perlindungan keluarga.
Keluarga diakui sebagai pusat kemajuan ekonomi dan sosial. Namun, realitanya banyak keluarga yang masih menghadapi keterbatasan dalam dukungan pengasuhan serta akses terhadap layanan dasar yang esensial.
Dampak Ketimpangan terhadap Ketahanan Keluarga
Tanpa adanya bantuan yang memadai, keluarga dengan anak usia dini memiliki risiko kemiskinan yang jauh lebih tinggi. Kondisi ini membawa efek domino jangka panjang pada kesehatan dan pendidikan anak secara menyeluruh.
Ketidakstabilan pendapatan dan akses digital yang terbatas dapat menghambat tumbuh kembang anak. Masalah ini sering kali diperparah oleh faktor ketidaksetaraan berdasarkan ras, gender, disabilitas, hingga status migrasi.
PBB menekankan pentingnya sistem perlindungan sosial yang terintegrasi untuk mengatasi tantangan tersebut. Langkah ini mencakup penyediaan tunjangan anak, cuti orang tua, hingga layanan penitipan anak yang terjangkau bagi masyarakat.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·