Sejumlah Negara Kecam Perlakuan Israel Terhadap Aktivis Freedom Flotilla

Sedang Trending 44 menit yang lalu

Sejumlah negara mengecam keras perlakuan Israel terhadap para aktivis Freedom Flotilla atau armada bantuan Gaza. Gelombang kecaman tersebut muncul usai unggahan video oleh menteri sayap kanan Israel, Itamar Ben Gvir, yang mengepalai keamanan nasional, seperti dilansir dari Detikcom.

Video yang diunggah Ben Gvir di platform X menunjukkan bahwa dirinya tengah berdiri menghadap sejumlah aktivis yang menyungkur dengan kedua tangan terikat ke belakang.

"Begitulah cara kami menyambut para pendukung terorisme. Selamat datang di Israel," kata Ben Gvir sambil melambaikan bendera Israel di atas kapal militer yang menahan para aktivis armada bantuan Gaza.

Para aktivis yang sedang melakukan pelayaran Freedom Flotilla dicegat oleh personel Angkatan Laut Israel pada Senin (18/05) lalu. Lembaga bantuan hukum yang berbasis di Israel, Adalah, mengatakan bahwa para aktivis ditahan di pelabuhan Ashdod dan dibawa ke Israel tanpa persetujuan mereka. Tim pengacara Adalah datang ke lokasi untuk memberi konsultasi hukum.

Dalam pernyataan terpisah, tim penyelenggara armada bantuan Gaza tersebut juga mengatakan para aktivis akan dipindahkan ke penjara Ketziot di Gurun Negev, bagian selatan Israel. Menurut mereka, Adalah bisa menemui para aktivis yang ditahan begitu mereka tiba di penjara Ketziot.

Sejumlah kepala negara mengunggah kritik terhadap Ben Gvir di media sosial. Pemerintah Italia menyatakan bahwa perlakuan Israel tidak dapat diterima dan akan memanggil duta besar Israel untuk meminta penjelasan.

"Ini tidak bisa ditoleransi. Ada banyak warga negara Italia di sana yang diperlakukan tidak sesuai martabat sebagai manusia," kata Giorgia Meloni, Perdana Menteri Italia, dalam sebuah pernyataan.

Duta Besar Jerman untuk Israel, Steffen Seibert, menyebut perlakuan Ben Gvir sebagai tindakan yang sangat tidak bisa diterima dan tidak sejalan dengan nilai-nilai dasar negara Jerman.

Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, telah memanggil duta besar Israel di Paris untuk menyampaikan protes keras.

"Tindakan Ben Gvir terhadap para penumpang Freedom Flotila, bahkan dikecam oleh rekan-rekannya sendiri di pemerintahan Israel. Ini tidak bisa diterima," tulis Barrot dalam unggahannya di X.

Menteri Luar Negeri Belanda, Tom Berendsen, juga akan memanggil duta besar Israel untuk membahas perlakuan yang tidak dapat diterima terhadap para aktivis armada bantuan Gaza yang ditahan.

Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, menyatakan dirinya sangat terkejut oleh video tersebut.

"Kami telah meminta penjelasan dari otoritas Israel dan menegaskan kewajiban mereka untuk melindungi hak-hak warga negara kami dan semua pihak yang terlibat," kata Cooper.

Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan Ben Gvir, sekali lagi secara terbuka menunjukkan kepada dunia mentalitas penuh kekerasan dan barbar dari pemerintahan Netanyahu.

Kanada juga akan memanggil duta besar Israel untuk menyampaikan protes, kata Menteri Luar Negeri Anita Anand.

"What we saw, including the video shared by Ben Gvir, is deeply concerning and completely unacceptable," katanya kepada wartawan dalam konferensi pers.

Utusan Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, turut mengecam tindakan Ben Gvir yang ia sebut memalukan.

"Ben Gvir telah mengkhianati martabat negaranya," tulis Huckabee di X.

Komisioner Uni Eropa untuk Kesetaraan, Kesiapsiagaan, dan Manajemen Krisis, Hadja Lahbib, juga mengecam keras perlakuan terhadap para aktivis armada bantuan menuju Gaza. Ia menegaskan bahwa tak seorang pun seharusnya dihukum karena membela kemanusiaan.

"Tonton video ini. Mereka bukan kriminal yang telah divonis. Mereka adalah aktivis yang berusaha membawa roti bagi orang-orang yang kelaparan," tulis Lahbib di platform X.

Hamas juga turut mengecam rekaman tersebut dan menyebutnya sebagai bukti kerusakan moral para pemimpin Israel. Hamas, yang melancarkan serangan terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Israel, Amerika Serikat, Inggris, dan sejumlah negara lainnya.

Meski Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Israel berhak menghentikan armada provokatif para pendukung teroris Hamas, ia menambahkan bahwa cara Ben Gvir memperlakukan para aktivis armada bantuan tersebut tidak sejalan dengan nilai dan norma Israel.

"I have ordered the relevant authorities to immediately deport these provocateurs," kata Netanyahu.

Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar juga turut bersuara mengenai tindakan kontroversial tersebut.

"Anda dengan sadar telah merugikan negara kami melalui tindakan memalukan ini — dan ini bukan pertama kalinya," tulis Saar di X. Ia menegaskan bahwa Ben Gvir bukan wajah Israel.

Israel menyatakan 430 aktivis di kapal armada bantuan itu telah dipindahkan ke kapal Israel. Mereka akan diizinkan bertemu perwakilan konsuler masing-masing setelah tiba di Israel.

Bila terjadi insiden pencegatan kapal oleh Israel, para aktivis umumnya dideportasi setelah menjalani penahanan sementara.

Ada lima warga negara Indonesia yang diduga turut ditangkap dalam misi pelayaran Freedom Flotilla. Mereka adalah Bambang Noroyono, Jurnalis Republika; Thoudy Badai, Jurnalis Republika; Andre Prasetyo, Jurnalis Tempo; Rahendro Herubowo, Jurnalis iNews; Andi Angga Prasadewa, aktivis Rumah Zakat.

Pemerintah Indonesia melalui kementerian luar negeri menyatakan mengutuk keras tindakan militer Israel.

"Kementerian Luar Negeri mendesak pemerintah Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemানুsiaan internasional yang ditahan," kata Yvonne Mewengkang, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI.

Yvonne juga menyatakan bahwa pemerintah RI tengah menjalin komunikasi dengan berbagai pihak untuk mengetahui informasi terkini tentang kondisi para WNI.

"Sekaligus menyiapkan langkah kontingensi, termasuk fasilitasi pelindungan dan percepatan proses pemulangan apabila diperlukan. Pelindungan WNI akan terus menjadi prioritas utama Pemerintah Indonesia di tengah situasi yang berkembang sangat cepat," kata Yvonne sebagaimana dikutip Kompas.