Sembilan Ribu Pekerja di Pulau Jawa Terancam PHK Massal

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) melaporkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang mengancam sekitar 9.000 buruh di 10 perusahaan wilayah Pulau Jawa pada Kamis (16/4/2026). Langkah efisiensi ini dipicu oleh gangguan rantai pasok global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Presiden KSPI Said Iqbal merinci bahwa sebaran perusahaan tersebut mencakup wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian kecil di Banten. Dilansir dari Bloombergtechnoz, manajemen perusahaan terkait mulai membuka ruang dialog dengan para karyawan mengenai potensi pengurangan tenaga kerja dalam tiga bulan ke depan.

Sektor industri padat karya menjadi kelompok yang paling terdampak oleh krisis ini karena ketergantungan tinggi pada bahan baku impor. Said menjelaskan bahwa kenaikan biaya operasional yang signifikan memaksa perusahaan mengambil langkah drastis guna menekan biaya tenaga kerja.

"Rata-rata kalau bahan bakunya yang ada plastik, kemungkinan potensi efisiensi penekanan labor cost buruk, itu pasti akan ada efisiensi dalam bentuk pengurangan karyawan," kata Said Iqbal, Presiden KSPI. Kenaikan harga material pendukung manufaktur ini memperparah kondisi keuangan internal perusahaan-perusahaan tersebut.

Kondisi pasar kerja juga diperumit dengan keengganan sektor industri untuk menambah personil baru dalam jangka panjang. Data dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menunjukkan tren serupa di mana mayoritas pelaku usaha memilih untuk bersikap konservatif di tengah ketidakpastian global.

Ketua Komite Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Bob Azam mengungkapkan bahwa 67% perusahaan tidak memiliki rencana untuk melakukan rekrutmen tenaga kerja baru. Informasi tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi bersama Komisi IX DPR RI pada Selasa (14/4/2026) lalu.

Selain penghentian rekrutmen, Apindo juga mencatat sebanyak 50 perusahaan lainnya memutuskan untuk tidak melakukan ekspansi bisnis hingga lima tahun mendatang. Situasi ini mencerminkan tekanan berat yang sedang dihadapi sektor manufaktur dan industri nasional dalam mempertahankan stabilitas operasional mereka.