Senator Filipina Ronald Dela Rosa Berlindung di Senat Hindari Penangkapan ICC

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Senator Filipina Ronald 'Bato' dela Rosa berlindung di dalam gedung Senat negara tersebut pada Senin (11/5/2026) guna menghindari penangkapan oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Langkah ini diambil beberapa jam sebelum ICC membuka segel surat perintah penangkapan terkait dugaan kejahatan kemanusiaan dalam operasi antinarkoba era Presiden Rodrigo Duterte.

Rekaman kamera keamanan menunjukkan Dela Rosa berlari masuk ke gedung Senat saat petugas dari Biro Investigasi Nasional melakukan pengejaran. Mantan Kepala Polisi Filipina tersebut kini berada di bawah perlindungan Senat setelah Kepolisian Filipina menyatakan tidak akan melakukan penangkapan selama ia berada dalam pengawasan lembaga legislatif itu.

ICC melalui Kamar Pra-Persidangan I awalnya menerbitkan surat perintah penangkapan rahasia tersebut pada 6 November 2025. Dela Rosa dituduh terlibat dalam rencana pembunuhan tersangka narkoba antara tahun 2011 hingga 2019, yang mencakup masa jabatannya sebagai direktur polisi Davao City dan kepala Kepolisian Nasional Filipina.

"Surat perintah penangkapan terhadap Bapak Ronald Marapon Dela Rosa ini dikeluarkan secara rahasia, dalam keadaan tersegel, oleh Kamar Pra-Persidangan I ICC pada tanggal 6 November 2025," demikian pernyataan resmi ICC dilansir dari CNN Indonesia.

Pihak Mahkamah Pidana Internasional saat ini sedang menuntaskan proses administrasi untuk menyebarluaskan dokumen hukum tersebut kepada pihak terkait.

"ICC saat ini sedang dalam proses membuka segel surat perintah penangkapan tersebut. Kami akan menyebarkannya kepada grup ini sesegera mungkin," lanjut pernyataan tersebut.

Ketua Senat Filipina yang baru terpilih, Alan Peter Cayetano, menegaskan bahwa pihaknya memberikan perlindungan berdasarkan koridor hukum domestik. Ia menyatakan lembaga tersebut hanya akan bertindak jika terdapat perintah dari pengadilan Filipina.

"[Dela Rosa di bawah perlindungan Senat] sesuai dengan peraturan kami dan hukum Filipina," kata Alan Peter Cayetano dilansir dari CNN Indonesia.

Di sisi lain, Dela Rosa menyatakan keteguhannya untuk tetap berada di kompleks parlemen demi menghindari ekstradisi ke Den Haag. Ia meminta pendukungnya untuk tetap berjaga di depan gedung Senat hingga Mahkamah Agung mengeluarkan putusan terkait validitas penangkapannya.

"Jika saya memiliki kewajiban, saya akan menjawabnya di pengadilan lokal, bukan pengadilan asing," ujar Ronald 'Bato' dela Rosa dilansir dari BBC.

Senator tersebut juga menantang Presiden Ferdinand Marcos Jr untuk membawa kasusnya ke meja hijau jika memang dianggap bersalah di mata hukum nasional.

"Tetap berjaga di depan Senat hingga Mahkamah Agung memutuskan," seru Ronald 'Bato' dela Rosa kepada para pendukungnya.

Dela Rosa sebelumnya sempat menyampaikan apresiasi atas penghargaan Bintang Bhayangkara Utama yang diterimanya dari Polri pada tahun 2018. Penghargaan tersebut ia jadikan motivasi dalam menjalankan kampanye antinarkotika di negaranya.

"Penghargaan ini menginspirasi saya untuk menggunakan usaha lebih dalam perang kami melawan narkotika dan obat-obatan terlarang," kata Ronald 'Bato' dela Rosa dalam video yang dikutip BBC.

Konteks kerja sama regional menjadi alasan pemberian penghargaan tertinggi kepolisian Indonesia tersebut saat itu.

"Tujuan memberi penghargaan adalah dalam rangka hubungan lebih baik. Karena mereka semua adalah tetangga kita. Kita sharing border dengan mereka," ujar Tito Karnavian, Kapolri saat itu.

Kasus ini merupakan kelanjutan dari proses hukum terhadap Rodrigo Duterte yang telah ditahan ICC sejak Maret 2025. Data aktivis HAM menyebutkan bahwa kampanye perang narkoba tersebut telah menewaskan sedikitnya 12.000 hingga 30.000 jiwa di Filipina.