Lima warga di Lebanon dilaporkan tewas akibat hantaman rudal militer Israel pada Rabu (22/4/2026), meskipun kedua negara telah menyepakati aturan gencatan senjata. Salah satu korban jiwa dalam peristiwa tersebut merupakan seorang jurnalis, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan para korban sempat berupaya menyelamatkan diri ke sebuah bangunan tempat tinggal terdekat. Namun, rumah yang menjadi lokasi perlindungan tersebut justru turut menjadi sasaran serangan militer Israel berikutnya.
Petugas penyelamat berhasil mengevakuasi Zeinab Faraj yang menderita luka serius pada bagian kepala untuk mendapatkan perawatan medis. Di sisi lain, upaya penyelamatan terhadap Amal Khalil tidak membuahkan hasil hingga ia dinyatakan meninggal dunia.
Hambatan evakuasi terjadi ketika militer Israel diduga melemparkan granat ke arah petugas yang sedang bekerja. Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut tindakan tersebut menghalangi penyelesaian misi kemanusiaan dengan menembakkan amunisi tajam dan granat suara ke arah unit ambulans.
Jasad Amal Khalil baru ditemukan oleh petugas di bawah puing-puing bangunan setelah situasi memungkinkan. Insiden ini menambah daftar korban tewas menjadi lima orang dalam satu hari di tengah periode gencatan senjata yang seharusnya berlangsung damai.
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam memberikan kecaman keras terhadap tindakan militer tersebut. Ia menilai penargetan terhadap awak media dan penghalangan bantuan merupakan bentuk pelanggaran serius.
"Lebanon tidak akan menyia-nyiakan upaya apa pun dalam mengejar kejahatan ini di hadapan badan-badan internasional yang relevan," kata Nawaf Salam, Perdana Menteri Lebanon.
Penegasan tersebut disampaikan Salam melalui sebuah unggahan di media sosial sebagai bentuk respons atas jatuhnya korban jiwa. Pemerintah Lebanon berencana membawa kasus ini ke jalur hukum internasional.
Pihak militer Israel mengeluarkan pernyataan resmi sebelum konfirmasi kematian Khalil diterbitkan dengan mengakui adanya laporan mengenai dua jurnalis yang terluka. Namun, mereka menyangkal tuduhan telah menghalangi tim penyelamat di lokasi kejadian.
"mencegah penyelesaian misi kemanusiaan dengan menembakkan granat suara dan amunisi tajam ke ambulans" ujar Kementerian Kesehatan Lebanon.
Pernyataan ini merujuk pada gangguan yang dialami tim medis saat berada di zona serangan. Saat ini, otoritas Lebanon masih melakukan pendataan lebih lanjut terkait total kerugian materiel dan dampak serangan tersebut terhadap stabilitas keamanan wilayah perbatasan.
"kejahatan perang" ujar Nawaf Salam, Perdana Menteri Lebanon.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·