Singapura Perketat Kebijakan Moneter Guna Redam Risiko Inflasi Energi

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Otoritas Moneter Singapura (MAS) resmi memperketat kebijakan moneter pada Selasa (14/4/2026) sebagai respons terhadap meningkatnya risiko inflasi global. Langkah ini menjadikan Singapura sebagai negara pertama di Asia yang bereaksi terhadap lonjakan harga energi akibat konflik bersenjata di Timur Tengah.

Sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz, bank sentral Singapura memutuskan untuk meningkatkan kemiringan (slope) pada pita kebijakan nilai tukar dolar Singapura (S$NEER). Keputusan ini diambil untuk memperkuat mata uang lokal guna meredam kenaikan biaya barang-barang impor yang dipicu oleh tingginya harga minyak dunia.

Data dari Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) menunjukkan ekonomi Singapura masih tumbuh 4,6% secara tahunan (year-on-year) pada kuartal pertama 2026. Meski demikian, secara kuartalan, Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat mengalami kontraksi sebesar 0,3% dibandingkan periode sebelumnya.

"Biaya energi impor Singapura telah meningkat," tulis MAS dalam pernyataan resminya. Lembaga tersebut mencatat bahwa harga minyak kemungkinan akan tetap tinggi dalam waktu lama meski pasokan pulih, sehingga merambat ke seluruh rantai pasokan global dan meningkatkan berbagai biaya impor.

Sektor manufaktur menjadi bidang yang paling terdampak dengan penurunan tajam sebesar 4,9% secara kuartalan. Penurunan ini berbanding terbalik dengan ekspansi 4,5% yang tercatat pada kuartal keempat tahun 2025, saat industri mendapat dorongan besar dari sektor kecerdasan buatan.

Para ekonom memprediksi akan ada pengetatan kebijakan tambahan pada pertemuan berikutnya. "Kami menilai perang Iran akan berdampak lebih besar pada inflasi dibandingkan pertumbuhan, sehingga tidak menutup kemungkinan adanya pengetatan tambahan pada pertemuan Juli," ujar Chua Hak Bin, ekonom dari Maybank.

Berbeda dengan Singapura, negara-negara tetangga di Asia seperti Indonesia, Filipina, dan Thailand cenderung bersikap menunggu. Bank sentral di negara-negara tersebut diprediksi tetap akan menahan suku bunga dalam beberapa minggu ke depan untuk memantau stabilitas ekonomi domestik masing-masing.

Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura menjadwalkan pembaruan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2026 pada Mei mendatang. Saat ini, target pertumbuhan masih berada pada kisaran 2% hingga 4% sesuai revisi yang dilakukan pada Februari lalu.