Syaiful Huda Soroti Masalah Sinyal dan Perlintasan dalam Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Sistem persinyalan dan keamanan perlintasan sebidang menjadi sorotan utama menyusul insiden kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL rute Kampung Bandan-Cikarang. Peristiwa ini terjadi di area perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat.

Dilansir dari Detikcom, Wakil Ketua Komisi V DPR RI Syaiful Huda menyampaikan keprihatinan mendalam atas kecelakaan yang melibatkan kereta api jarak jauh dan commuter line tersebut. Ia menekankan bahwa kereta api telah menjadi tulang punggung transportasi publik yang didukung investasi besar negara.

"Kami tentu menyampaikan duka mendalam bagi para korban dan keluarganya atas kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek (PLB 4B) yang menabrak KRL PLB 5588a dengan rute Kampung Bandan-Cikarang. Insiden ini sangat memprihatinkan karena saat ini kereta api jarak jauh maupun commuter telah menjadi tulang punggung transportasi kita dan negara juga telah berinvestasi besar untuk terus mengembangkan infrastruktur, teknologi persinyalan, hingga prosedur operasional perjalanan kereta api kita," kata Huda saat dihubungi, Selasa (28/4/2026).

Huda meminta publik untuk bersabar menunggu hasil investigasi resmi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Namun, ia memberikan catatan kritis mengenai rendahnya tingkat kepatuhan pengguna jalan di perlintasan sebidang.

"Pertama, kepatuhan publik untuk mengutamakan perjalanan kereta api masih relatif rendah. Kita masih sering melihat masyarakat yang nekat menerobos palang pintu di perlintasan sebidang, meskipun sinyal tanda kereta akan melintas sudah berbunyi. Akibatnya, banyak kendaraan yang terjebak di tengah perlintasan karena terburu-buru, yang kemudian memicu kecelakaan. Hal ini jugalah yang diduga terjadi di perlintasan JPL 85, di mana sebuah taksi nekat melintas hingga akhirnya mogok di tengah rel dan tertemper KRL 5181," ucap dia.

Politisi tersebut juga memaparkan data mengenai ribuan perlintasan sebidang di Indonesia yang tidak memiliki penjagaan resmi. Dari total sekitar 3.000 hingga 4.000 titik, hanya sebagian kecil yang diawasi oleh otoritas terkait.

"Mayoritas dari perlintasan tersebut tidak memiliki penjagaan, sehingga sangat rawan memicu kecelakaan. Saat ini, hanya sekitar 1.200 titik yang dijaga oleh PT KAI, Pemerintah Daerah, maupun Dinas Perhubungan. Sementara itu, terdapat 2.600 titik tanpa penjagaan, dan sisanya merupakan perlintasan liar. Informasi yang kami terima menyebutkan bahwa perlintasan JPL 85 di dekat Stasiun Bekasi Timur merupakan salah satu perlintasan tanpa penjagaan," ujar dia.

Evaluasi Sistem Persinyalan dan Manajemen Waktu

Aspek teknis mengenai sistem persinyalan atau signaling juga tidak luput dari perhatian Komisi V. Huda mempertanyakan mengapa KA Argo Bromo Anggrek tetap melaju saat terdapat gangguan di lintasan yang seharusnya terdeteksi oleh sistem.

"Kami menyoroti persoalan sistem persinyalan (signaling). Seharusnya, KA Argo Bromo Anggrek dapat memperlambat atau bahkan menghentikan perjalanan saat terdapat gangguan di lintasan. Pertanyaannya adalah, ketika KRL 5181 terlibat insiden dengan taksi dan KRL 5588A menghentikan perjalanannya di Stasiun Bekasi Timur, mengapa KA Argo Bromo Anggrek tetap melaju? Apakah ini murni persoalan sistem sinyal atau ada unsur kelalaian manusia (human error)?" tutur dia.

Huda menegaskan perlunya langkah radikal jika ditemukan kegagalan pada infrastruktur teknologi kereta api. Ia mendesak adanya perbaikan menyeluruh baik pada sistem sinyal maupun pengamanan perlintasan liar.

"Jika hasil investigasi menunjukkan adanya masalah pada sistem sinyal, maka harus ada revolusi persinyalan yang lebih presisi. Begitu pula jika perlintasan sebidang tanpa penjagaan menjadi pemicu utamanya, maka pemerintah dan operator harus melakukan perbaikan infrastruktur secara mendasar," lanjut dia.

Terakhir, ia menyinggung faktor tekanan kerja yang mungkin dihadapi oleh petugas di lapangan. Evaluasi terhadap manajemen waktu operasional dinilai penting agar keselamatan tetap menjadi prioritas di atas ketepatan jadwal.

"Misalnya, jika hasil investigasi KNKT menunjukkan bahwa masinis Argo Bromo merasa tertekan karena harus mengejar jadwal, maka perlu ada perbaikan manajemen waktu agar aspek keselamatan tidak terabaikan," imbuhnya.