Jakarta (ANTARA) - Di musim 2015/2016 sebuah "dongeng" menjadi nyata ketika klub Leicester City mengunci gelar juara Liga Inggris untuk pertama kalinya sepanjang sejarah.
Trofi perdana Si Rubah, julukan Leicester, terasa sangat spesial karena mereka bukanlah tim unggulan selayaknya Manchester City, Chelsea, Manchester United, Liverpool, atau Arsenal di musim tersebut.
Namun, nyatanya Leicester dengan probabilitas kemungkinan juara di bawah satu persen mampu mewujudkan keajaiban dengan mengangkat trofi paling bergengsi di tanah Britania Raya.
Sosok sang pelatih, Claudio Ranieri, menjadi kunci di balik keberhasilan Si Rubah mengangkat trofi Liga Inggris dan membawanya pulang ke kota Leicester.
Pelatih asal Italia tersebut piawai meramu keseimbangan tim, memadukan pilar-pilar berpengalaman seperti Kasper Schmeichel, Wes Morgan, Danny Simpson, Marc Albrighton, Shinji Okazaki, hingga Jamie Vardy, dengan talenta-talenta penuh potensi seperti N'Golo Kanté, Riyad Mahrez, dan Ben Chilwell.
Leicester mengunci gelar Liga Inggris dengan catatan impresif: 23 kemenangan, 12 hasil imbang, dan hanya tiga kekalahan. Si Rubah juga menorehkan 68 gol dan kebobolan 36 gol, dengan persentase kemenangan mencapai 60,53 persen.
Capaian tersebut cukup untuk membungkam Arsenal asuhan Arsène Wenger, yang harus puas finis di peringkat kedua dengan raihan 71 poin.
Dongeng Si Rubah terasa seperti anomali dalam sepak bola modern, sebuah kisah yang sulit terulang di tengah lanskap kompetisi yang kian didominasi kekuatan modal besar dalam belanja pemain.
Sayangnya, Leicester tak memiliki sumber daya finansial sebesar tim-tim “Big Six”, sehingga konsistensi untuk terus bersaing di papan atas Liga Inggris menjadi tantangan yang tak ringan.
Tim yang bermarkas di King Power Stadium, Leicester itu kini justru berkutat di papan bawah kompetisi divisi kedua Inggris yakni Championships.
Kondisi 180 derajat dialami oleh Leicester yang pada satu dekade silam merupakan pemilik takhta tertinggi sepak bola di Inggris dengan gelar juara Liga Inggris.
Baca juga: Banding ditolak, Leicester City terima hukuman pengurangan enam poin
Baca juga: Leicester City resmi berpisah dengan pelatih Ruud van Nistelrooy
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·