PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatatkan pendapatan konsolidasi sebesar Rp146,7 triliun sepanjang tahun buku 2025 di tengah akselerasi strategi transformasi perusahaan. Pencapaian ini dilansir dari Detik iNET pada Selasa (12/5/2026) seiring dengan penguatan fundamental melalui program TLKM 30.
Perseroan membukukan laba bersih atau net income sebesar Rp17,8 triliun dengan margin sebesar 12,1 persen. Sementara itu, laba bersih yang dinormalisasi mencapai Rp22,7 triliun dengan EBITDA konsolidasi menyentuh angka Rp72,2 triliun.
Total pengembalian pemegang saham atau Total Shareholder Return (TSR) tercatat berada pada angka 35,7 persen sepanjang tahun 2025. Angka ini mencakup capital gain sebesar 28,4 persen dan imbal hasil dividen sebesar 7,3 persen bagi para investor.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menjelaskan bahwa fokus utama perusahaan sejak tahun lalu adalah melakukan eksekusi terhadap strategi transformasi secara terstruktur. Hal ini dilakukan guna menghadapi tantangan makroekonomi yang menekan sektor telekomunikasi.
"Lewat strategi TLKM 30, Telkom memantapkan arah transformasi yang lebih terstruktur untuk mengakselerasi terwujudnya visi sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global, sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," ujar Dian Siswarini, Direktur Utama Telkom.
Strategi tersebut mencakup empat pilar utama, termasuk Operational & Service Excellence serta penataan portofolio bisnis non-inti. Salah satu langkah konkretnya adalah proses divestasi AdMedika dan TelkoMedika yang ditargetkan rampung pada paruh pertama 2026.
Telkom juga melakukan penyelarasan kebijakan akuntansi sebagai bagian dari amanat total governance reset dari Danantara Indonesia. Langkah ini mengakibatkan kontraksi laba bersih sebesar 9,5 persen secara tahunan akibat beban percepatan depresiasi aset.
Pada segmen konsumen, Telkomsel memberikan kontribusi pendapatan sebesar Rp109,2 triliun dengan kenaikan trafik data mencapai 15 persen. Pemulihan pendapatan rata-rata per pengguna atau ARPU mulai terlihat sejak semester kedua tahun 2025.
Unit bisnis infrastruktur B2B juga menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 9,2 persen dengan total pendapatan Rp8,9 triliun. Sektor ini didukung oleh operasional dua pusat data skala besar di Cikarang dan Singapura serta puluhan fasilitas edge data center.
Anak usaha lainnya, Mitratel, mengukuhkan posisi sebagai penyedia menara telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara dengan kepemilikan 40.230 menara. Perusahaan tersebut mencatatkan pendapatan Rp9,5 triliun dengan margin laba bersih sebesar 22,2 persen.
Untuk mendukung seluruh ekspansi infrastruktur tersebut, Telkom merealisasikan belanja modal sebesar Rp27,5 triliun sepanjang tahun 2025. Mayoritas dana dialokasikan untuk pengembangan jaringan B2C dan infrastruktur internasional guna memperkuat konektivitas nasional.
"Sepanjang tahun 2025 Telkom telah berhasil menjaga kinerja yang stabil berkat strategi transformasi TLKM 30. Di tahun 2026, Telkom berada pada fase penting dalam mengakselerasi dan melanjutkan eksekusi transformasi. Dengan disiplin operasional, kami semakin yakin dapat memperkuat daya saing dan menciptakan nilai yang berkelanjutan. Ke depan, Telkom akan terus melangkah dengan arah yang lebih terstruktur untuk menghadirkan kinerja yang semakin solid serta memberikan manfaat optimal bagi seluruh pemangku kepentingan," ujar Dian Siswarini, Direktur Utama Telkom.
Pelaksanaan program pembelian kembali saham atau share buyback dengan nilai maksimal Rp3 triliun masih dijadwalkan berlangsung hingga Mei 2026.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·