Tersangka pencabulan puluhan santriwati berinisial A diduga melarikan diri setelah tidak memenuhi panggilan pemeriksaan penyidik Satuan Reskrim Polresta Pati hingga Senin malam, 4 Mei 2026. Polisi kini melakukan pencarian terhadap pengasuh Pondok Pesantren Ndolo Kusumo tersebut karena keberadaannya tidak diketahui oleh keluarga maupun pengacara.
Dugaan pelarian ini muncul setelah tersangka dipastikan hilang kontak dan tidak kunjung mendatangi markas kepolisian setempat. Padahal sebelumnya, pihak kepolisian sempat memberikan jaminan bahwa tersangka akan bersikap kooperatif selama menjalani proses hukum yang menjeratnya.
Kepala Satuan Reskrim Polresta Pati Kompol Dika Hadiyan Widya Wiratama menyatakan bahwa pihaknya telah berupaya melakukan pendekatan secara persuasif melalui pihak keluarga tersangka.
"Kami panggil keluarga si A untuk mencari dan membujuk yang bersangkutan, namun tersangka A juga tidak dapat dihubungi (lost contact)," kata Kompol Dika Hadiyan Widya Wiratama, Selasa, 5 Mei 2026.
Kepolisian menegaskan tidak akan segan untuk melakukan tindakan tegas apabila tersangka terus menghindari proses hukum. Langkah penjemputan paksa atau penangkapan menjadi opsi utama jika indikasi melarikan diri terbukti kuat.
"Apabila yang bersangkutan tidak kooperatif dan terdapat indikasi melarikan diri, maka akan melakukan penangkapan," ujar Kompol Dika Hadiyan Widya Wiratama.
Dampak dari kasus hukum ini juga berujung pada penutupan Pondok Pesantren Ndolo Kusumo di Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu. Berdasarkan data yang dihimpun, sebanyak 252 santri yang mayoritas merupakan anak yatim dan dari keluarga tidak mampu telah dipulangkan ke rumah masing-masing.
Pihak pengelola yayasan mengonfirmasi bahwa proses pemulangan para santri tersebut dilakukan secara bertahap pada awal Mei ini.
"Seluruh santri Ndolo Kusumo yang mukim di pesantren sudah dipulangkan ke rumah masing-masing pada 2 dan 3 Mei 2026," ujar seorang pengurus Yayasan Ndolo Kusumo.
Kondisi pendidikan ratusan santri pasca-pemulangan menjadi perhatian serius karena mereka masih berada dalam masa studi aktif. Berikut adalah rincian data pendidikan santri yang terdampak berdasarkan tingkatan sekolah:
| Raudlatul Athfal (PAUD) | 4 Anak |
| Madrasah Ibtidaiyah (SD) | 89 Anak |
| Sekolah Menengah Pertama (SMP) | 91 Anak |
| Madrasah Aliyah (SMA) | 50 Anak |
| Hanya Mondok (Tidak Sekolah) | 8 Anak |
Sejumlah lembaga pendidikan di Kabupaten Pati seperti MI Khoiriyatul Ulum Sitiluhur dan MA Assalafiyah Lahar Gembong dilaporkan telah menyatakan kesiapan untuk menampung para santri tersebut guna menjamin keberlanjutan pendidikan mereka.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·