Jakarta (ANTARA) -
Apa jadinya kalau hidup tiba-tiba tanpa internet, tanpa listrik, tanpa layar yang biasanya jadi pelarian setiap kali bosan?
Situasi itu jadi titik awal dalam film The Magic Faraway Tree, ketika keluarga Thompson harus meninggalkan kehidupan modern dan pindah ke perdesaan. Tim Thompson yang diperankan Andrew Garfield bersama Polly Thompson yang diperankan Claire Foy membawa anak-anak mereka ke lingkungan yang jauh dari teknologi.
Bagi orang tua, ini mungkin pilihan hidup. Tapi bagi anak-anak mereka, ini terasa seperti dipaksa keluar dari dunia yang sudah mereka kenal.
Tidak ada Wi-Fi, listrik, distraksi digital, hari-hari yang biasanya diisi dengan gadget berubah jadi waktu yang terasa kosong. Rasa bosan muncul, dan adaptasi pun tidak berjalan mulus.
Di tengah kondisi itu, Fran Thompson yang diperankan Billie Gadsdon menemukan sesuatu yang tidak biasa. Sebuah pohon besar yang ternyata menyimpan dunia lain di dalamnya.
Baca juga: Film Mickey 17, konflik dari kloning manusia
Penemuan ini tidak langsung dipercaya. Tapi Fran tetap meyakinkan saudara-saudaranya, Beth Thompson yang diperankan Delilah Bennett-Cardy dan Joe Thompson yang diperankan Phoenix Laroche, untuk ikut melihat.
Dari situlah, petualangan dimulai.
Pohon itu menyembunyikan dunia lain yang perlahan mengubah cara mereka melihat segalanya. Setiap lapisan di dalamnya membuka dunia yang berbeda. Dunia yang penuh warna, makhluk unik, dan pengalaman yang tidak mungkin mereka temukan di kehidupan sebelumnya yang serba digital.
Di sinilah film mulai menunjukkan kekuatannya. Bukan pada konflik besar, tapi pada rasa penasaran dan imajinasi yang terus dijaga.
Dunia dalam pohon terasa hidup. Visualnya cerah, penuh warna, dan cukup detail untuk membuat penonton merasa ingin ikut masuk. Setiap dunia membawa nuansa yang berbeda, memberi sensasi petualangan yang terus berubah tanpa terasa membingungkan.
Baca juga: Segudang fan service untuk penggemar Marvel di "Deadpool & Wolverine"
Di dalam dunia ini, mereka bertemu karakter-karakter unik. Silky, yang diperankan Nicola Coughlan, menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian. Karakternya ceria, hangat, dan selalu membawa energi positif di setiap adegan.
Moonface yang diperankan Nonso Anozie menambah warna dengan keunikan karakternya, sementara Saucepan Man yang diperankan Dustin Demri-Burns menghadirkan sentuhan humor yang khas.
Karakter lain seperti Dame Washalot yang diperankan Jessica Gunning dan sosok nenek yang diperankan Jennifer Saunders turut memperkaya dinamika cerita.
Meski film ini tidak mengandalkan konflik yang kompleks, tetap ada momen yang memberi dorongan emosional. Salah satunya ketika keputusan dan keinginan Beth justru memicu masalah yang membuat mereka harus kembali ke pohon untuk memperbaiki keadaan. Momen ini memberi sedikit ketegangan, tanpa mengubah tone film yang tetap ringan.
Baca juga: Hadapi intimidasi makhluk mitos Irlandia dalam film "The Watchers"
Alur cerita disusun sederhana dan mudah diikuti. Tidak ada plot berlapis yang membuat penonton harus berpikir keras. Pendekatan ini terasa konsisten dengan target penonton keluarga, terutama anak-anak. Tapi bukan berarti penonton dewasa tidak bisa menikmati. Justru kesederhanaan ini membuat film terasa lebih santai dan tidak melelahkan.
Di balik dunia fantasinya, film ini menyentuh isu yang cukup dekat dengan kehidupan sekarang. Ketergantungan pada gadget, perubahan gaya hidup, dan bagaimana sebuah keluarga belajar beradaptasi dengan kondisi baru.
Perpindahan dari kehidupan digital ke lingkungan yang lebih sederhana menjadi latar yang terasa relevan, tanpa perlu disampaikan secara berat.
Pilihan orang tua untuk tinggal di perdesaan juga memberi lapisan makna tersendiri. Di tengah keterbatasan, justru muncul ruang untuk membangun kembali kedekatan dalam keluarga. Hal-hal kecil yang sebelumnya terlewat mulai terasa penting.
Baca juga: Misteri teror boneka hidup di "Five Nights at Freddy's"
The Magic Faraway Tree merupakan adaptasi dari karya klasik Enid Blyton yang disutradarai oleh Ben Gregor dengan naskah oleh Simon Farnaby. Film ini tidak mencoba menjadi cerita fantasi yang kompleks atau penuh konflik besar. Sebaliknya, ia fokus pada pengalaman yang menyenangkan dan mudah diikuti.
Hasilnya adalah film yang terasa ringan, hangat, dan cukup untuk membuat penonton tersenyum tanpa usaha berlebihan. Ini bukan film yang akan meninggalkan kesan mendalam dalam jangka panjang. Tapi selama menonton, ia berhasil memberikan sesuatu yang sederhana tapi efektif. Rasa senang.
Dengan pendekatan seperti itu, The Magic Faraway Tree cocok untuk tontonan ringan, ingin sejenak lepas dari rutinitas, atau sekadar menikmati dunia fantasi tanpa harus terjebak dalam cerita yang rumit. Film ini telah tayang di bioskop mulai 17 April 2026.
Baca juga: "Puss in Boots: The Last Wish", sajikan hiburan ringan dan sarat pesan
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·